045.

“Loh, Mas Hanan sama Mbak Nadine saling kenal?” Tanya Pak Asep, penjual nasi goreng yang Hanan sebut sebagai nasi goreng favoritnya. Ternyata, nasi goreng itu juga nasi goreng langganan Nadine.

Hanan kebingungan, ia menoleh ke arah Nadine yang berdiri di sampingnya. “Loh, Dine, pernah ke sini?” Tanya Hanan.

Nadine terkekeh. Ia menundukkan kepalanya, memberi salam kepada Pak Asep kemudian tersenyum manis.

“Ini sih nasi goreng langganan gue, Nan. Tapi gue udah lama banget ga kesini sih. Ga punya temen hahaha.”

Pak Asep ikut mengangguk menanggapi jawaban Nadine. “Iya, Mas. Mbak Nadine ini dulu sering banget beli ke saya sama kakaknya. Tapi terus tiba-tiba hilang ga pernah mampir lagi.”

“Bang Javi keluar negeri soalnya, Pak. Jadi saya ga ada temen buat jajan nasi goreng deh.”

“Yaudah, sekarang kan ada Mas Hanan. Berarti Mbak Nadine sama Mas Hanan harus sering-sering mampir kesini.”

“Duduk dulu, Mas, Mbak.” Ucap Pak Asep mempersilahkan mereka untuk duduk di tempat yang disediakan.

“Pedes dua, kan?” Tanya Pak Asep.

“Pak Asep masih inget aja. Kerupuknya dibanyakin ya, Pak.” Ucap Nadine kepada Pak Asep, yang dibalasnya dengan acungan jempol.


Beruntung angin malam ini tidak terlalu dingin untuk posisi keberadaan mereka sekarang. Mereka berdua duduk di tikar kecil yang digelar di trotoar pinggir jalan sebuah komplek perumahan. Jalanan itu tidak terlalu ramai, namun tidak terlalu sepi juga. Mungkin hanya sesekali ada beberapa kendaraan yang berlalu lalang.

Sembari menunggu nasi goreng yang sedang dimasak oleh Pak Asep, mereka telah membicarakan banyak hal. Dari cerita Nadine dan Javi yang pertama kali menemukan nasi goreng Pak Asep, adik perempuan Hanan yang sering merengek untuk dibelikan nasi goreng Pak Asep, hingga berlanjut ke topik pembicaraan lainnya.

“Oh iya, Nan. Gimana tadi ketemu sama abang? Seru futsalnya?” Tanya Nadine.

Hanan langsung mengingat kejadian tadi sore, dimana ia dan Javi berada pada satu tim futsal melawan teman teman Javi yang lain. Mereka berhasil memenangkan pertandingan dan berakhir Javi merangkul baju Hanan akrab, seperti adiknya sendiri.

“Seru, Dine. Seru Banget.”

“Bang Javi jago tau. Kita tadi satu tim, asli deh Bang Javi mainnya keren. Jadi atlit bisa kali, hahaha.”

“Dia dulu emang sering main futsal gitu sih. Apalagi waktu sekolah dia ikut ekskul futsal.” Jelas Nadine.

“Jadi kalian menang dong tadi?”

Hanan mengangguk antusias. “Iya lah menang. Bang Javi keren, ditambah satu tim sama gue jadi kalah semua lawannya.”

Mereka berdua tertawa. Nadine yang menertawakan ucapan Hanan yang barusan terdengar sangat percaya diri. Dan Hanan yang ikut tertawa melihat gadis di depannya tertawa.

“Bang Javi kayaknya suka sama lo deh, Nan.” Ucap Nadine.

“Lo juga suka sama gue ga?”

Pertanyaan Hanan barusan membuat tubuh Nadine membeku. Ia menoleh menatap Hanan dengan gugup, serta pipinya yang sedikit memerah.

“Hah, gue—”

“Permisi, Mas, Mbak. Nasi gorengnya udah siap.”