jejesmiley

“Halo, Dine?” ucap Hanan kepada seseorang yang terhubung dengannya melalui panggilan telepon yang sedang ia lakukan sekarang.

Kini waktu telah menunjukkan pukul tujuh malam. Nadine, orang yang terhubung dengan panggilan bersama Hanan, kini sedang duduk di atas tempat tidurnya dengan sebuah novel yang baru saja ia letakkan di sampingnya.

“Halo, Nan. Iya, kenapa?”

“Lagi di mana?” tanya Hanan kepada Nadine.

“Di kamar. Kenapa?”

“Coba berdiri di depan jendela. Liat ke luar.” Tutur Hanan memberi instruksi.

Nadine mengerutkan dahinya bingung. Berpikir mengapa Hanan memintanya untuk berdiri memandang ke luar dari jendela kamarnya.

Ia melangkahkan kakinya, melakukan hal yang baru saja diminta oleh Hanan. Tangan kanannya bergerak untuk membuka gorden berwarna putih yang senada dengan cat tembok kamarnya. Dengan tangan kirinya yang masih setia memegang ponsel yang menempel di telinganya.

“Hah, Nan? Lo ngapain disitu?” tanya Nadine heran setelah melihat Hanan yang berdiri di seberang rumahnya. Bukan keberadaan Hanan yang membuatnya kaget, namun keberadaan Pak Asep beserta gerobak nasi gorengnya yang ada di sana.

Hanan terkekeh di ujung sana. Netranya menatap Nadine dari kejauhan dan menarik ujung bibirnya.

“Dine, liat dari sana, ya.”

Hanan berjalan menuju depan gerobak nasi goreng milik Pak Asep. Tangannya meraih tali yang terlihat mengikat sebuah gulungan spanduk di atas sana dan menariknya hingga spanduk itu terbuka dan menutupi gerobak di sana.

“Nadine, ayo pacaran!” begitulah kalimat yang tertulis di sana.

Nadine menutup mulutnya yang ternganga karena melihat apa yang terjadi di bawah sana. Sesaat kemudian ia tertawa gemas.

“Dine, kok ketawa? Ini cringe, ya?” cemas Hanan.

Nadine masih tertawa, ia tidak menghiraukan pertanyaan Hanan barusan dan berlari keluar kamarnya. Ia menuruni tangga dengan tergesa-gesa, hingga Javi yang melihatnya menggeleng heran dengan apa yang dilakukan adik perempuannya itu.

Kini Nadine telah berdiri di depan pintu gerbang rumahnya, tepat di seberang tempat Hanan beserta gerobak dengan spanduk yang masih terbuka itu berdiri.

“Dine, mungkin ini menurut lo cringe atau apapun. Tapi gue beneran sayang sama lo.”

“Nadine, may i be your boyf—” Hanan belum sempat menyelesaikan ucapannya, namun Nadine sudah berlari ke arah Hanan dan memeluknya.

“Iya!” jawabnya.

Hanan pun membalas pelukan gadis yang saat ini sudah menjadi miliknya, mendekapnya dengan hangat dan mengusap lembut rambutnya.

“Pak Asep, nasi goreng buat saya kaya biasanya satu, ya! Yang bayar yang barusan jadian!” teriak Javi dari depan pagar yang membuat Nadine dan Hanan melepaskan pelukan mereka.

Hanan melangkahkan kakinya memasuki sebuah cafe dengan interior minimalis itu. Pandangannya menelusuri seluruh ruangan untuk mencari letak keberadaan Javi, kakak Nadine, saat ini. Hingga netranya menangkap sosok pemuda tampan dengan kemeja motif garis duduk di samping jendela sambil memandang ke arah luar sana.

Hanan mendekati keberadaan Javi. Javi yang menyadari kehadiran Hanan pun menoleh dan menatapnya dengan serius. Tak ada tatapan ramah Javi seperti biasanya. Hanya ada sedikit senyuman tipis yang ia berikan.

“Jadi gimana? Mau jawab sekarang?” tanya Javi kepada Hanan yang kini duduk di depannya.

Hanan menegakkan posisi duduknya. Ia menarik napas, bersiap untuk menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Javi semalam. Kemudian ia menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Javi barusan.

“Jadi kenapa gue harus setuju lo pacaran sama Nadine? Kenapa gue harus yakin kalau lo layak buat Nadine? ” selidik Javi.

“Yang pastinya gue sayang sama Nadine” jawab Hanan yang membuat Javi menautkan alisnya, meminta jawaban lebih lanjut.

“Gue memang bukan orang hebat, Bang. Apalagi kalau dibandingkan sama lo, gue gaada apa-apanya, hahaha.” Hanan terkekeh.

“Tapi seperti yang gue bilang. Gue sayang sama Nadine. Sayang banget.”

“Dan gue akan berusaha untuk selalu ada buat Nadine. Gue mau jadi sandaran Nadine. Gue mau jadi tempat dia berbagi keluh kesahnya. Karena gue tau, selama ini dia nyimpen semuanya sendirian. Iya kan, Bang?”

Javi mengangguk mendengar perkataan Hanan. Memang benar, selama ini Nadine selalu menyimpan semuanya sendirian. Jarang sekali ia berkeluh kesah kepada Javi.

“Tapi gimana kalau dia belum siap buat berbagi semua keluh kesahnya ke lo?” timpal Javi.

“Gue ga akan paksa Nadine. Tapi gue akan terus berusaha buat nunjukin ke Nadine, kalau dia berhak punya sandaran dan tempat berbagi keluh kesahnya.”

Javi menarik sudut bibirnya, tersenyum hingga membentuk lesung pipi di kedua sisinya. Ia membangkitkan tubuhnya untuk berdiri dari tempat duduknya, diikuti oleh Hanan melakukan hal yang sama. Ia mendekat ke arah Hanan dan menepuk pundaknya.

“Jagain adek gue, ya, Nan?” pinta Javi.

Hanan tersenyum mendengar pernyataan Javi barusan.

“Jadi approved nih, Bang?” tanya Hanan memastikan.

Javi tersenyum licik. “Belum. Ayo ikut gue. Lawan gue main PS dulu.”

“Nadine, aku bakalan kuliah di Aussie.”

Begitulah bunyi sebuah pesan yang tertera di layar ponsel Nadine. Nadine hanya melirik ponselnya sekilas, tak berniat untuk membalas pesan itu.

“And I think we should stop here. Sorry, I'm really sorry.”

Nadine tersenyum pahit melihat pesan yangkembali diterimanya. Ia meraih ponselkepunyaannya dan membuka ruang obrolan tempat pesan itu berada. Jemarinya pun mulai bergerak memencet satu persatu huruf hingga membentuk kata demi kata.

“Stop what? We didn't even start anything, Raf. Congratulations! Aku tau ini mimpi kamu dari dulu. I'm happy for you.”

Nadine menghela napasnya kasar. Memang benar apa yang baru saja ia tuliskan disana, mereka bahkan belum memulai apa-apa.

“We can still be friend, right?”

Lagi-lagi Nadine tersenyum pahit melihat pesan baru yang tertera di layar ponselnya.

“Of course.”

Waktu menunjukkan pukul 8 pagi. Nadine dan Hanan hari ini sama-sama memiliki jadwal kelas siang, namun Hanan kini sudah berada di depan rumah Nadine. Duduk di bangku mobilnya, memandang ke arah gerbang putih di depan sana melalui kaca mobilnya yang sedikit ia buka, sambil mendengarkan lagu Sunday Best yang diputar oleh radio kesayangannya. Ya, meskipun hari ini bukan hari Minggu, tapi tidak masalah.

Hanan meraih ponselnya, membuka ruang obrolan miliknya dengan kontak bernama Nadine. Mengetikkan satu demi satu huruf hingga membentuk kata hingga satu kalimat.

“Dine, gue udah di depan.”

Beberapa saat kemudian terdengar bunyi notifikasi yang diduga dari kontak bernama Nadine itu.

“Iya, sebentar.” Jawabnya.

Hanan menutup kembali ponselnya. Meletakkannya ke tempat semula, dan kembali menikmati lantunan musik dari siaran radio yang masih diputar.

Tak lama, Nadine mengetuk pelan kaca mobil milik Hanan. Hanan menoleh, di sana ia melihat gadis yang beberapa tahun belakangan ini sering bersamanya sedang tersenyum dengan manisnya. Ia pun turun dari mobil, berjalan ke arah sisi satunya, membuka pintu untuk Nadine.

Nadine yang melihat hal itu mengulas senyumnya. Sebenarnya ini bukan hal yang tidak biasa bagi mereka. Tapi bagi Nadine, perhatian kecil yang sering diberikan oleh Hanan ini memiliki efek yang sangat luar biasa bagi dirinya.


Kini mobil yang mereka tumpangi telah terhenti di tempat parkir yang terletak di fakultas mereka, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Hanan dan Nadine sama-sama sibuk mempersiapkan barang-barang mereka yang akan dibawa. Setelah selesai dengan kegiatannya, Hanan hanya duduk terdiam, menunggu Nadine yang masih menatap cermin kecil di tangannya sambil merapikan rambutnya.

“Udah?” Tanya Hanan setelah melihat Nadine selesai dengan apa yang ia lakukan.

Nadine mengangguk. “Ayo!” Ajak Nadine yang tangan kirinya kini telah meraih pintu mobil untuk membukanya.

“Sebentar.” Ucap Hanan tiba-tiba.

Nadine kembali duduk dan menarik tangan kirinya kembali. Sedangkan Hanan seperti sedang mencari sesuatu yang entah sebenarnya ia letakkan dimana. Hingga pada akhirnya, ia menemukan sebuah kotak kecil berwarna putih. Entah apa isinya, Nadine juga belum tahu.

Hanan membuka kotak itu, di dalamnya terdapat sebuah scrunchie berwarna merah muda. Tangan kanan Hanan mengambil isi dari kotak itu. Sedangkan tangan kirinya meraih tangan kanan kepunyaan Nadine. Kemudian ia memasangkan benda itu melingkar di pergelangan tangan milik Nadine.

“Dipake, jaga-jaga kalo iket rambutnya ilang lagi. Biar rambutnya ga ganggu kalo lagi makan.” Ucap Hanan.

Nadine kini telah menginjakkan kakinya di ujung kantin fakultas ilmu sosial dan politik. Ia berhenti sejenak. Matanya menelusuri dari ujung ke ujung, mencoba menemukan sosok yang ia cari.

Penglihatannya terhenti pada sesosok pria dengan kemeja biru tua yang duduk sambil melambaikan tangannya ke arah Nadine, sambil memamerkan senyum manisnya. Tangganya juga melambai, mengisyaratkan Nadine untuk mendekat ke arahnya.

Nadine pun berjalan menuju sosok pria itu. Kemudian ia duduk di bangku yang berada di depannya.

“Lama, ya?” Tanya Nadine.

Hanan mengangguk. “Iya, lama banget. Sampe mau jadi batu nih ciloknya.” Jawabnya dengan nada bercanda.

“Lebay.” Cibir Nadine.

Nadine meraih piring yang berisi satu porsi cilok didepannya. Ia hendak menyuap satu buah cilok ke dalam mulutnya. Rambut hitamnya yang terurai panjang pun jatuh terurai ke depan, hampir mengenai sambal.

Hanan yang melihat itu langsung berdiri dari tempat duduknya. Ia berpindah tempat menjadi duduk di sebelah Nadine. Tangannya meraih rambut Nadine yang terurai bebas agar tidak mengenai sambal.

“Lain kali rambutnya diiket, Dine. Hampir kena sambel nih.” Peringat Hanan.

“Iya. Tadi iket rambut gue ilang, lupa deh gue taruh di mana.” Jawabnya sambil meraih rambut panjangnya yang berada di genggaman Hanan.

“Sebentar.” Hanan berdiri, berjalan menuju salah satu penjual yang ada di sana. Kemudian ia kembali dengan sebuah karet gelang di genggamannya.

Hanan kembali duduk di samping Nadine. Ia mengarahkan tubuh Nadine untuk membelakanginya. Kedua tangannya bergerak meraih seluruh rambut hitam nan panjang kepunyaan Nadine. Mengikatnya dengan rapi, meski hanya menggunakan karet seadanya.

“Nah, gini kan enak lo makannya.” Ucap Hanan setelah menyelesaikan kegiatannya.

“Makasih.”

Aira meraih ponsel di nakasnya. Pandangannya tertuju pada layar ponselnya yang menunjukkan waktu dan tanggal hari ini. Aira menarik senyumnya tipis sambil beralih memandang ke arah sebuah foto yang berada di dalam bingkai cantik di atas nakasnya.

Memorinya kembali kepada kejadian satu tahun yang lalu, dimana ia dan Papa Jeff merayakan hari ayah bersama. Ia teringat bagaimana ia membuat kue menurut resep yang ia temukan di internet dan menghiasnya dengan ucapan hari ayah. Dan juga senyum manis Papa Jeff saat mengetahui putrinya yang menyiapkan kejutan untuknya.

Aira tersenyum pahit saat memori tersebut melintas di otaknya. Kalau boleh jujus, ia sangat ridu dengan Papa Jeff.

Ia beranjak dari tempat tidurnya, meletakkan kembali ponselnya dan beralih meraih sebuah ikat rambut berwarna merah muda untuk mengikat rambutnya. Kemudian ia pergi untuk membersihkan tubuhnya dan bersiap-siap untuk pergi merayakan hari ini.


Aira mematikan mesin mobilnya dan turun dari sana. Ia menjatuhkan langkah demi langkahnya sambil membawa dua buket bunga mawar merah besar di kedua tangannya, berjalan mendekati makam kedua orang tuanya.

Aira berdiri di antara kedua makam yang bertuliskan Kyra dan Jeffryan itu. Ia memandangnya dengan bergantian sebelum ia menekuk lutunya dan duduk bersimpuh di sana. Bunga yang semula berada di genggamannya ia pindahkan satu-persatu ke atas makam orang tuanya. Menatanya dengan rapi hingga terlihat sangat cantik.

Aira menundukkan kepalanya sejenak. Mulutnya merapalkan doa untuk mereka, berharap mereka berdua bahagia di sana. Sembari tangan kanannya mengusap batu nisannya satu-persatu.

“Halo, Ma, Pa. Ini Aira.” monolog Aira.

Aira memutar posisinya, menghadap ke arah makam mamanya.

“Halo, Mama Kyra. Mama apa kabar? Udah nggak sepi lagi kan di sana? Kan udah ada Papa Jeff.” Ucap Aira dengan senyum tipisnya.

“Ma, Aira titip Papa, ya? Mama sama papa harus seneng-seneng di sana, oke?”

Kemudian Aira membalik tubuhnya yang semula menghadap ke makam mama Kyra menjadi menghadap ke makam Papa Jeff.

“Halo, Papa Jeff.. Ini Aira..” Sapanya dengan suara yang sedikit bergetar.

Aira mengangkat kepalanya untuk menahan air matanya. Ia menatap langit di atas sana yang sedang mendung, yang mungkin saja sebentar lagi meneteskan air hujan seperti matanya yang ingin meneteskan tangis.

“Pa, kalau boleh jujur.. Aira masih nggak percaya kalau papa bakal pergi nyusul mama secepat ini. Tapi papa tenang aja, Aira udah ikhlas kok. Papa yang tenang ya sama mama di sana.”

“Papa, makasih banyak, ya? Makasih banyak udah jadi papa yang sangat baik buat Aira. Aira tau kalau jadi orang tua tunggal seperti papa itu nggak mudah. Aira juga tau kalau kadang papa nangis di dalem kamar sambil peluk foto mama.”

“Tapi papa harus tau, kalau papa udah jadi sosok ayah yang sangat hebat buat Aira.”

Aira mulai meneteskan air matanya. Di saat yang bersamaan, hujan turun meneteskan airnya di permukaan tanah. Seolah langit turut menangis bersama Aira.

Air hujan yang turun semakin berdatangan. Aira bersiap untuk beranjak dari sana sebelum tubuhnya menjadi semakin basah lagi. Namun sebelum beranjak, ia menempelkan telapak tangannya di atas gundukan tanah di depannya. Mengusapnya dengan lembut sambil mengucapkan beberapa patah kata.

“Selamat hari ayah, Papa Jeff.”

Sudah dua jam berlalu sejak Hanan mengusili Nadine dengan mengatakan bensinnya habis tadi. Mereka benar-benar melakukan night drive, sesuai dengan ajakan Hanan. Tak banyak yang mereka lakukan. Hanya duduk di dalam mobil, menelusuri jalanan kota sambil mendengarkan playlist mereka.

Mungkin sesekali mereka berbincang. Membahas hal-hal random yang mereka temui di jalanan. Seperti kenapa penjual nasi goreng memilih berjualan dengan mendorong gerobak, saling membayangkan kehidupan di bulan, hingga Hanan yang bercerita tentang kucing tetangganya yang baru saja beranak. Ya, memang serandom itu mereka berdua.

Hanan melepaskan tangan kirinya dari stir mobil. Kemudian ia menggunakannya untuk mengganti musik yang akan diputar di dalam mobil mereka.

“I Know You Know I Love You – Sunset Rollercoaster”

Watch the sky, you know I Like a star shining in your eyes

Hanan mengetukkan jemarinya dengan stir mobil sembari menatap jalanan di depannya. Lagu ini mungkin bisa dibilang cukup menggambarkan perasaannya kepada Nadine.

Sometimes I wonder why Just wanna hold your hand and walk with you side by side

Sampai di lampu merah, Hanan melepaskan kedua tangannya. Memindahkan tangan kirinya untuk meraih tangan kanan Nadine dan menggenggamnya. Nadine hanya bisa diam untuk menutupi rasa gugupnya.

I know you know, i love you baby I know you know, i love you baby

Hanan mulai mengikuti irama lagu yang ia putar. Kepalanya bergerak mengangguk mengikuti ketukan. Masih dengan tangan Nadine yang berada di genggamannya, ia membuka mulutnya untuk ikut bernyanyi bersama dengan lagu yang ia putar.

“Just wanted you to know I love, i love you, i love you, i love you..”

Ibu jarinya mengusap punggung tangan Nadine. Ia menyanyikan lirik yang baru saja ia nyanyikan sambil menatap Nadine dengan tulus. Tak lupa dengan senyum manisnya.

Nadine yang diperlakukan manis seperti itu pun tersipu. Ia membuang mukanya ke arah luar mobil, menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu sekaligus gugup. Dan melepaskan tangan kanannya yang beberapa saat lalu digenggam oleh Hanan.

“Nan, udah ijo.”

Hanan terkekeh. Ia terlalu larut ke dalam lagu dan sibuk memandangi gadis di sampingnya hingga lupa keberadaan mereka yang masih berada di lampu merah.

Nadine masih mencoba menetralkan detak jantungnya. Karena lagi dan lagi, Hanan secara tidak langsung mengungkapkan perasaan kepadanya.

“Loh, Mas Hanan sama Mbak Nadine saling kenal?” Tanya Pak Asep, penjual nasi goreng yang Hanan sebut sebagai nasi goreng favoritnya. Ternyata, nasi goreng itu juga nasi goreng langganan Nadine.

Hanan kebingungan, ia menoleh ke arah Nadine yang berdiri di sampingnya. “Loh, Dine, pernah ke sini?” Tanya Hanan.

Nadine terkekeh. Ia menundukkan kepalanya, memberi salam kepada Pak Asep kemudian tersenyum manis.

“Ini sih nasi goreng langganan gue, Nan. Tapi gue udah lama banget ga kesini sih. Ga punya temen hahaha.”

Pak Asep ikut mengangguk menanggapi jawaban Nadine. “Iya, Mas. Mbak Nadine ini dulu sering banget beli ke saya sama kakaknya. Tapi terus tiba-tiba hilang ga pernah mampir lagi.”

“Bang Javi keluar negeri soalnya, Pak. Jadi saya ga ada temen buat jajan nasi goreng deh.”

“Yaudah, sekarang kan ada Mas Hanan. Berarti Mbak Nadine sama Mas Hanan harus sering-sering mampir kesini.”

“Duduk dulu, Mas, Mbak.” Ucap Pak Asep mempersilahkan mereka untuk duduk di tempat yang disediakan.

“Pedes dua, kan?” Tanya Pak Asep.

“Pak Asep masih inget aja. Kerupuknya dibanyakin ya, Pak.” Ucap Nadine kepada Pak Asep, yang dibalasnya dengan acungan jempol.


Beruntung angin malam ini tidak terlalu dingin untuk posisi keberadaan mereka sekarang. Mereka berdua duduk di tikar kecil yang digelar di trotoar pinggir jalan sebuah komplek perumahan. Jalanan itu tidak terlalu ramai, namun tidak terlalu sepi juga. Mungkin hanya sesekali ada beberapa kendaraan yang berlalu lalang.

Sembari menunggu nasi goreng yang sedang dimasak oleh Pak Asep, mereka telah membicarakan banyak hal. Dari cerita Nadine dan Javi yang pertama kali menemukan nasi goreng Pak Asep, adik perempuan Hanan yang sering merengek untuk dibelikan nasi goreng Pak Asep, hingga berlanjut ke topik pembicaraan lainnya.

“Oh iya, Nan. Gimana tadi ketemu sama abang? Seru futsalnya?” Tanya Nadine.

Hanan langsung mengingat kejadian tadi sore, dimana ia dan Javi berada pada satu tim futsal melawan teman teman Javi yang lain. Mereka berhasil memenangkan pertandingan dan berakhir Javi merangkul baju Hanan akrab, seperti adiknya sendiri.

“Seru, Dine. Seru Banget.”

“Bang Javi jago tau. Kita tadi satu tim, asli deh Bang Javi mainnya keren. Jadi atlit bisa kali, hahaha.”

“Dia dulu emang sering main futsal gitu sih. Apalagi waktu sekolah dia ikut ekskul futsal.” Jelas Nadine.

“Jadi kalian menang dong tadi?”

Hanan mengangguk antusias. “Iya lah menang. Bang Javi keren, ditambah satu tim sama gue jadi kalah semua lawannya.”

Mereka berdua tertawa. Nadine yang menertawakan ucapan Hanan yang barusan terdengar sangat percaya diri. Dan Hanan yang ikut tertawa melihat gadis di depannya tertawa.

“Bang Javi kayaknya suka sama lo deh, Nan.” Ucap Nadine.

“Lo juga suka sama gue ga?”

Pertanyaan Hanan barusan membuat tubuh Nadine membeku. Ia menoleh menatap Hanan dengan gugup, serta pipinya yang sedikit memerah.

“Hah, gue—”

“Permisi, Mas, Mbak. Nasi gorengnya udah siap.”

Jonatan dan Aira melangkahkan kaki mereka dengan tergesa di lorong rumah sakit. Jantung Aira berdegup dengan cepat. Jemari kanannya menggenggam erat tangan Jonathan. Ia masih belum bisa memproses apa yang baru saja terjadi.

Kini mereka tiba di depan ruang Instalasi Gawat Darurat. Jonathan melepaskan genggamannya pada jemari Aira. Memindahkan tangannya ke bahu kiri Aira, meraihnya dan menepuknya pelan. “Tenang ya, Ra,” katanya.

Seorang pria dengan jas dokter yang melekat pada tubuhnya keluar dari ruangan itu dan berjalan menghampiri mereka. “Dengan keluarga dari pasien atas nama Jeffreyan?”

Jonathan mengangguk. “Iya, saya kerabatnya, Dok. Dan ini putrinya.”

Dokter itu menghela napas perlahan. Sorot matanya yang sendu menatap Jonathan dan Aira secara bergantian. “Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, namun semua sudah terlambat. Saudara Jeffreyan tidak bisa bertahan,”

Aira meraih lengan Jonathan dan memeluknya dengan erat. Tatapannya kosong ke depan.

“Saudara Jeffreyan meninggal dunia.”

Aira menggeleng dengan cepat. Pelukannya pada lengan Jonathan semakin erat. “Enggak, nggak mungkin. Bohong. Dokter bohong kan?”

“Om Jonathan! Cepet bilang ke Aira kalau ini semuanya bohong! Papa Jeff nggak mungkin ninggalin Aira sendirian kan? Om Jonathan jawab!”

Jonathan mengusap wajahnya kasar. Ia menarik tubuh kecil Aira yang kini bergetar hebat ke dalam pelukannya. Tangan kanannya mengusap punggung Aira menenangkan.

Sakit, sakit sekali bagi Aira. Dadanya seperti tertusuk ribuan belati. Raganya remuk, seperti dihantam batu terberat yang ada di bumi. Derai air mata mengalir dengan deras di pipinya. Semuanya terasa seperti mimpi. Bahkan Aira pun juga berharap kalau ini semua hanya mimpi. Namun nyatanya semua ini adalah kenyataan. Nyata, bahwa semesta milik Aira kini telah benar-benar hancur seutuhnya.

“Papa.. Jangan tinggalin Aira sendirian..”


Aira terduduk lemas di samping gundukan tanah yang dihiasi dengan taburan bunga di atasnya itu. Jeffreyan Adinata, begitulah nama yang tertulis di sana. Iya, Jeffreyan. Jeffreyan, Papa Jeff milik Aira. Papa kesayangan Aira, yang kini telah meninggalkan Aira untuk selamanya.

Aira mengusap nama yang tertulis di sana. Kemudian ia meraih setangkai bunga mawar yang terletak di sebelahnya. Lalu ia letakkan di atas makam Papa Jeff.

Aira tersenyum pahit. “Papa kenapa ninggalin Aira? Papa udah kangen banget ya sama Mama?”

Aira meraih makam mamanya yang terletak di sebelah makam Papa Jeff. Kembali terputar memori beberapa tahun yang lalu, dimana Aira kecil dan Papa Jeff mengunjungi makam Mama Kyra.

“Pa, ini sebelah Mama kosong?” Tanya Aira kecil kepada Papa Jeff.

Papa Jeff mengangguk. “Iya, itu buat orang yang menemani Mama nanti.”

Aira kembali meneteskan air matanya. Ternyata yang Papa Jeff maksud sebagai teman Mama Kyra adalah Papa Jeff sendiri.

“Mama juga kangen ya sama Papa? Papa sama Mama udah ketemu kan disana? Kalian.. Bahagia kan..”

Aira meraih ponsel di saku celananya. Membuka dan menghadapkan layar ponselnya ke arah makam Papa Jeff. Di sana tertulis ucapan selamat yang tertuju untuk Aira. Serta tertera tulisan Pendidikan Dokter, Universitas Gadjah Mada.

“Papa belum lihat kan? Aira lolos, Pa. Aira nanti kuliah di Jogja. Aira nanti jadi dokter.”

“Papa bangga kan sama Aira? Ayo bangun, Pa. Peluk Aira, bilang kalo Aira anak hebat. Anak kesayangan Papa Jeff yang paling hebat. Papa, ayo bangun!”

Aira terisak. Di belakang sana, terdapat Jonathan dan Jean yang menahan tangisnya. Melihat seorang Aira yang biasa periang, terlihat sangat rapuh dan hancur di sana.

Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Suara mesin mobil milik Papa Jeff mulai terdengar memasuki garasi rumah. Aira yang mendengarnya pun segera bergegas menuju pintu depan.

Papa Jeff yang baru datang melihat Aira yang berjalan menghampirinya. Ia hanya berhenti sebentar, melepas jas dari tubuhnya, dan kembali berjalan melewati Aira.

“Tidur. Besok sekolah.” Ucapnya singkat, sebelum ia benar benar melewati Aira.

“Pa, Aira mau ngomong.” Ucap Aira yang berhasil menghentikan langkah Papa Jeff.

Papa Jeff mengubah posisi tubuhnya menjadi menghadap ke arah Aira sejenak. Kemudian ia berjalan menuju sofa dan duduk di sana. Ia juga mengisyaratkan Aira untuk duduk di sebelahnya.

Aira menggenggam erat kedua tangannya. Kini mereka sudah sama-sama duduk di sofa. Matanya melirik ke arah Papa Jeff. Terlihat Papa Jeff yang memandang lurus ke depan dengan tatapan dinginnya.

“Pa,”

“Maaf..” Aira menundukkan kepalanya. Tanpa sadar, air mata menetes dari matanya.

“Aira tau kalo Aira salah. Maaf kalo Aira udah ngecewain Papa. Aira ngaku, Aira udah ngelanggar rules yang Papa kasih”

“Papa.. Mau maafin Aira kan..?”

Aira masih menundukkan kepalanya. Kemudian, Papa Jeff menarik tubuh putrinya itu ke dalam pelukan hangatnya. Tangis Aira pecah. Ia tenggelamkan wajahnya di dada bidang Papa Jeff.

“Jangan diulang lagi ya, Ra?”

“Papa seneng kalau kamu sadar sama kesalahan kamu. Kamu tau kan, Papa kaya gini buat kebaikan kamu juga? Papa nggak mau kamu pulang larut malem karena Papa khawatir. Papa nggak mau ada sesuatu yang buruk terjadi sama kamu, Ra.”

“Kamu putri Papa satu-satunya. Papa cuma punya kamu di dunia ini, Ra. Papa udah kehilangan Mama kamu, sekarang Papa nggak mau sampai harus kehilangan kamu juga.”

“Papa sayang sama Aira, sayang sekali.” Ucap Papa Jeff sambil mengusap halus rambut Aira.

“Aira juga sayang sama Papa,”

“Papa ga akan kehilangan Aira. Aira akan selalu bersama Papa.”

“Papa juga jangan tinggalin Aira sendirian ya?”