080.

Waktu menunjukkan pukul 8 pagi. Nadine dan Hanan hari ini sama-sama memiliki jadwal kelas siang, namun Hanan kini sudah berada di depan rumah Nadine. Duduk di bangku mobilnya, memandang ke arah gerbang putih di depan sana melalui kaca mobilnya yang sedikit ia buka, sambil mendengarkan lagu Sunday Best yang diputar oleh radio kesayangannya. Ya, meskipun hari ini bukan hari Minggu, tapi tidak masalah.

Hanan meraih ponselnya, membuka ruang obrolan miliknya dengan kontak bernama Nadine. Mengetikkan satu demi satu huruf hingga membentuk kata hingga satu kalimat.

“Dine, gue udah di depan.”

Beberapa saat kemudian terdengar bunyi notifikasi yang diduga dari kontak bernama Nadine itu.

“Iya, sebentar.” Jawabnya.

Hanan menutup kembali ponselnya. Meletakkannya ke tempat semula, dan kembali menikmati lantunan musik dari siaran radio yang masih diputar.

Tak lama, Nadine mengetuk pelan kaca mobil milik Hanan. Hanan menoleh, di sana ia melihat gadis yang beberapa tahun belakangan ini sering bersamanya sedang tersenyum dengan manisnya. Ia pun turun dari mobil, berjalan ke arah sisi satunya, membuka pintu untuk Nadine.

Nadine yang melihat hal itu mengulas senyumnya. Sebenarnya ini bukan hal yang tidak biasa bagi mereka. Tapi bagi Nadine, perhatian kecil yang sering diberikan oleh Hanan ini memiliki efek yang sangat luar biasa bagi dirinya.


Kini mobil yang mereka tumpangi telah terhenti di tempat parkir yang terletak di fakultas mereka, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Hanan dan Nadine sama-sama sibuk mempersiapkan barang-barang mereka yang akan dibawa. Setelah selesai dengan kegiatannya, Hanan hanya duduk terdiam, menunggu Nadine yang masih menatap cermin kecil di tangannya sambil merapikan rambutnya.

“Udah?” Tanya Hanan setelah melihat Nadine selesai dengan apa yang ia lakukan.

Nadine mengangguk. “Ayo!” Ajak Nadine yang tangan kirinya kini telah meraih pintu mobil untuk membukanya.

“Sebentar.” Ucap Hanan tiba-tiba.

Nadine kembali duduk dan menarik tangan kirinya kembali. Sedangkan Hanan seperti sedang mencari sesuatu yang entah sebenarnya ia letakkan dimana. Hingga pada akhirnya, ia menemukan sebuah kotak kecil berwarna putih. Entah apa isinya, Nadine juga belum tahu.

Hanan membuka kotak itu, di dalamnya terdapat sebuah scrunchie berwarna merah muda. Tangan kanan Hanan mengambil isi dari kotak itu. Sedangkan tangan kirinya meraih tangan kanan kepunyaan Nadine. Kemudian ia memasangkan benda itu melingkar di pergelangan tangan milik Nadine.

“Dipake, jaga-jaga kalo iket rambutnya ilang lagi. Biar rambutnya ga ganggu kalo lagi makan.” Ucap Hanan.