102

Hanan melangkahkan kakinya memasuki sebuah cafe dengan interior minimalis itu. Pandangannya menelusuri seluruh ruangan untuk mencari letak keberadaan Javi, kakak Nadine, saat ini. Hingga netranya menangkap sosok pemuda tampan dengan kemeja motif garis duduk di samping jendela sambil memandang ke arah luar sana.

Hanan mendekati keberadaan Javi. Javi yang menyadari kehadiran Hanan pun menoleh dan menatapnya dengan serius. Tak ada tatapan ramah Javi seperti biasanya. Hanya ada sedikit senyuman tipis yang ia berikan.

“Jadi gimana? Mau jawab sekarang?” tanya Javi kepada Hanan yang kini duduk di depannya.

Hanan menegakkan posisi duduknya. Ia menarik napas, bersiap untuk menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Javi semalam. Kemudian ia menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Javi barusan.

“Jadi kenapa gue harus setuju lo pacaran sama Nadine? Kenapa gue harus yakin kalau lo layak buat Nadine? ” selidik Javi.

“Yang pastinya gue sayang sama Nadine” jawab Hanan yang membuat Javi menautkan alisnya, meminta jawaban lebih lanjut.

“Gue memang bukan orang hebat, Bang. Apalagi kalau dibandingkan sama lo, gue gaada apa-apanya, hahaha.” Hanan terkekeh.

“Tapi seperti yang gue bilang. Gue sayang sama Nadine. Sayang banget.”

“Dan gue akan berusaha untuk selalu ada buat Nadine. Gue mau jadi sandaran Nadine. Gue mau jadi tempat dia berbagi keluh kesahnya. Karena gue tau, selama ini dia nyimpen semuanya sendirian. Iya kan, Bang?”

Javi mengangguk mendengar perkataan Hanan. Memang benar, selama ini Nadine selalu menyimpan semuanya sendirian. Jarang sekali ia berkeluh kesah kepada Javi.

“Tapi gimana kalau dia belum siap buat berbagi semua keluh kesahnya ke lo?” timpal Javi.

“Gue ga akan paksa Nadine. Tapi gue akan terus berusaha buat nunjukin ke Nadine, kalau dia berhak punya sandaran dan tempat berbagi keluh kesahnya.”

Javi menarik sudut bibirnya, tersenyum hingga membentuk lesung pipi di kedua sisinya. Ia membangkitkan tubuhnya untuk berdiri dari tempat duduknya, diikuti oleh Hanan melakukan hal yang sama. Ia mendekat ke arah Hanan dan menepuk pundaknya.

“Jagain adek gue, ya, Nan?” pinta Javi.

Hanan tersenyum mendengar pernyataan Javi barusan.

“Jadi approved nih, Bang?” tanya Hanan memastikan.

Javi tersenyum licik. “Belum. Ayo ikut gue. Lawan gue main PS dulu.”