112.

“Halo, Dine?” ucap Hanan kepada seseorang yang terhubung dengannya melalui panggilan telepon yang sedang ia lakukan sekarang.

Kini waktu telah menunjukkan pukul tujuh malam. Nadine, orang yang terhubung dengan panggilan bersama Hanan, kini sedang duduk di atas tempat tidurnya dengan sebuah novel yang baru saja ia letakkan di sampingnya.

“Halo, Nan. Iya, kenapa?”

“Lagi di mana?” tanya Hanan kepada Nadine.

“Di kamar. Kenapa?”

“Coba berdiri di depan jendela. Liat ke luar.” Tutur Hanan memberi instruksi.

Nadine mengerutkan dahinya bingung. Berpikir mengapa Hanan memintanya untuk berdiri memandang ke luar dari jendela kamarnya.

Ia melangkahkan kakinya, melakukan hal yang baru saja diminta oleh Hanan. Tangan kanannya bergerak untuk membuka gorden berwarna putih yang senada dengan cat tembok kamarnya. Dengan tangan kirinya yang masih setia memegang ponsel yang menempel di telinganya.

“Hah, Nan? Lo ngapain disitu?” tanya Nadine heran setelah melihat Hanan yang berdiri di seberang rumahnya. Bukan keberadaan Hanan yang membuatnya kaget, namun keberadaan Pak Asep beserta gerobak nasi gorengnya yang ada di sana.

Hanan terkekeh di ujung sana. Netranya menatap Nadine dari kejauhan dan menarik ujung bibirnya.

“Dine, liat dari sana, ya.”

Hanan berjalan menuju depan gerobak nasi goreng milik Pak Asep. Tangannya meraih tali yang terlihat mengikat sebuah gulungan spanduk di atas sana dan menariknya hingga spanduk itu terbuka dan menutupi gerobak di sana.

“Nadine, ayo pacaran!” begitulah kalimat yang tertulis di sana.

Nadine menutup mulutnya yang ternganga karena melihat apa yang terjadi di bawah sana. Sesaat kemudian ia tertawa gemas.

“Dine, kok ketawa? Ini cringe, ya?” cemas Hanan.

Nadine masih tertawa, ia tidak menghiraukan pertanyaan Hanan barusan dan berlari keluar kamarnya. Ia menuruni tangga dengan tergesa-gesa, hingga Javi yang melihatnya menggeleng heran dengan apa yang dilakukan adik perempuannya itu.

Kini Nadine telah berdiri di depan pintu gerbang rumahnya, tepat di seberang tempat Hanan beserta gerobak dengan spanduk yang masih terbuka itu berdiri.

“Dine, mungkin ini menurut lo cringe atau apapun. Tapi gue beneran sayang sama lo.”

“Nadine, may i be your boyf—” Hanan belum sempat menyelesaikan ucapannya, namun Nadine sudah berlari ke arah Hanan dan memeluknya.

“Iya!” jawabnya.

Hanan pun membalas pelukan gadis yang saat ini sudah menjadi miliknya, mendekapnya dengan hangat dan mengusap lembut rambutnya.

“Pak Asep, nasi goreng buat saya kaya biasanya satu, ya! Yang bayar yang barusan jadian!” teriak Javi dari depan pagar yang membuat Nadine dan Hanan melepaskan pelukan mereka.