126

Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Suara mesin mobil milik Papa Jeff mulai terdengar memasuki garasi rumah. Aira yang mendengarnya pun segera bergegas menuju pintu depan.

Papa Jeff yang baru datang melihat Aira yang berjalan menghampirinya. Ia hanya berhenti sebentar, melepas jas dari tubuhnya, dan kembali berjalan melewati Aira.

“Tidur. Besok sekolah.” Ucapnya singkat, sebelum ia benar benar melewati Aira.

“Pa, Aira mau ngomong.” Ucap Aira yang berhasil menghentikan langkah Papa Jeff.

Papa Jeff mengubah posisi tubuhnya menjadi menghadap ke arah Aira sejenak. Kemudian ia berjalan menuju sofa dan duduk di sana. Ia juga mengisyaratkan Aira untuk duduk di sebelahnya.

Aira menggenggam erat kedua tangannya. Kini mereka sudah sama-sama duduk di sofa. Matanya melirik ke arah Papa Jeff. Terlihat Papa Jeff yang memandang lurus ke depan dengan tatapan dinginnya.

“Pa,”

“Maaf..” Aira menundukkan kepalanya. Tanpa sadar, air mata menetes dari matanya.

“Aira tau kalo Aira salah. Maaf kalo Aira udah ngecewain Papa. Aira ngaku, Aira udah ngelanggar rules yang Papa kasih”

“Papa.. Mau maafin Aira kan..?”

Aira masih menundukkan kepalanya. Kemudian, Papa Jeff menarik tubuh putrinya itu ke dalam pelukan hangatnya. Tangis Aira pecah. Ia tenggelamkan wajahnya di dada bidang Papa Jeff.

“Jangan diulang lagi ya, Ra?”

“Papa seneng kalau kamu sadar sama kesalahan kamu. Kamu tau kan, Papa kaya gini buat kebaikan kamu juga? Papa nggak mau kamu pulang larut malem karena Papa khawatir. Papa nggak mau ada sesuatu yang buruk terjadi sama kamu, Ra.”

“Kamu putri Papa satu-satunya. Papa cuma punya kamu di dunia ini, Ra. Papa udah kehilangan Mama kamu, sekarang Papa nggak mau sampai harus kehilangan kamu juga.”

“Papa sayang sama Aira, sayang sekali.” Ucap Papa Jeff sambil mengusap halus rambut Aira.

“Aira juga sayang sama Papa,”

“Papa ga akan kehilangan Aira. Aira akan selalu bersama Papa.”

“Papa juga jangan tinggalin Aira sendirian ya?”