188
Jonatan dan Aira melangkahkan kaki mereka dengan tergesa di lorong rumah sakit. Jantung Aira berdegup dengan cepat. Jemari kanannya menggenggam erat tangan Jonathan. Ia masih belum bisa memproses apa yang baru saja terjadi.
Kini mereka tiba di depan ruang Instalasi Gawat Darurat. Jonathan melepaskan genggamannya pada jemari Aira. Memindahkan tangannya ke bahu kiri Aira, meraihnya dan menepuknya pelan. “Tenang ya, Ra,” katanya.
Seorang pria dengan jas dokter yang melekat pada tubuhnya keluar dari ruangan itu dan berjalan menghampiri mereka. “Dengan keluarga dari pasien atas nama Jeffreyan?”
Jonathan mengangguk. “Iya, saya kerabatnya, Dok. Dan ini putrinya.”
Dokter itu menghela napas perlahan. Sorot matanya yang sendu menatap Jonathan dan Aira secara bergantian. “Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, namun semua sudah terlambat. Saudara Jeffreyan tidak bisa bertahan,”
Aira meraih lengan Jonathan dan memeluknya dengan erat. Tatapannya kosong ke depan.
“Saudara Jeffreyan meninggal dunia.”
Aira menggeleng dengan cepat. Pelukannya pada lengan Jonathan semakin erat. “Enggak, nggak mungkin. Bohong. Dokter bohong kan?”
“Om Jonathan! Cepet bilang ke Aira kalau ini semuanya bohong! Papa Jeff nggak mungkin ninggalin Aira sendirian kan? Om Jonathan jawab!”
Jonathan mengusap wajahnya kasar. Ia menarik tubuh kecil Aira yang kini bergetar hebat ke dalam pelukannya. Tangan kanannya mengusap punggung Aira menenangkan.
Sakit, sakit sekali bagi Aira. Dadanya seperti tertusuk ribuan belati. Raganya remuk, seperti dihantam batu terberat yang ada di bumi. Derai air mata mengalir dengan deras di pipinya. Semuanya terasa seperti mimpi. Bahkan Aira pun juga berharap kalau ini semua hanya mimpi. Namun nyatanya semua ini adalah kenyataan. Nyata, bahwa semesta milik Aira kini telah benar-benar hancur seutuhnya.
“Papa.. Jangan tinggalin Aira sendirian..”
Aira terduduk lemas di samping gundukan tanah yang dihiasi dengan taburan bunga di atasnya itu. Jeffreyan Adinata, begitulah nama yang tertulis di sana. Iya, Jeffreyan. Jeffreyan, Papa Jeff milik Aira. Papa kesayangan Aira, yang kini telah meninggalkan Aira untuk selamanya.
Aira mengusap nama yang tertulis di sana. Kemudian ia meraih setangkai bunga mawar yang terletak di sebelahnya. Lalu ia letakkan di atas makam Papa Jeff.
Aira tersenyum pahit. “Papa kenapa ninggalin Aira? Papa udah kangen banget ya sama Mama?”
Aira meraih makam mamanya yang terletak di sebelah makam Papa Jeff. Kembali terputar memori beberapa tahun yang lalu, dimana Aira kecil dan Papa Jeff mengunjungi makam Mama Kyra.
“Pa, ini sebelah Mama kosong?” Tanya Aira kecil kepada Papa Jeff.
Papa Jeff mengangguk. “Iya, itu buat orang yang menemani Mama nanti.”
Aira kembali meneteskan air matanya. Ternyata yang Papa Jeff maksud sebagai teman Mama Kyra adalah Papa Jeff sendiri.
“Mama juga kangen ya sama Papa? Papa sama Mama udah ketemu kan disana? Kalian.. Bahagia kan..”
Aira meraih ponsel di saku celananya. Membuka dan menghadapkan layar ponselnya ke arah makam Papa Jeff. Di sana tertulis ucapan selamat yang tertuju untuk Aira. Serta tertera tulisan Pendidikan Dokter, Universitas Gadjah Mada.
“Papa belum lihat kan? Aira lolos, Pa. Aira nanti kuliah di Jogja. Aira nanti jadi dokter.”
“Papa bangga kan sama Aira? Ayo bangun, Pa. Peluk Aira, bilang kalo Aira anak hebat. Anak kesayangan Papa Jeff yang paling hebat. Papa, ayo bangun!”
Aira terisak. Di belakang sana, terdapat Jonathan dan Jean yang menahan tangisnya. Melihat seorang Aira yang biasa periang, terlihat sangat rapuh dan hancur di sana.