“Ayah, maafin Athaya..”
Athaya kini berdiri di depan pintu ruangan di mana ayahnya berada. Ia berhenti sejenak, menetralkan detak jantungnya yang berdegup kencang. Mengurangi rasa gugupnya sebelum bertemu kembali dengan sang ayah.
Raja menepuk pundak Athaya. Memberi kode meminta gadis di sampingnya itu untuk masuk ke dalam sana.
“Gue tunggu di sini aja, ya?” tanya Raja.
Athaya mengangguk. Tangan kanannya meraih gagang pintu dan membukanya, membuat orang di dalam sana menoleh dan mengembangkan senyumnya.
“Athaya, sini!” panggilnya.
Athaya pun melangkahkan kakinya untukmasuk, berjalan mendekat ke arah Januaryang kini terbaring di ranjang pasien. Mendudukkan dirinya di atas bangku yang terletak tepat di samping ranjang pasien.
“Kamu apa kabar?” tanya Januar sambil memandang ke arah Athaya.
“Baik.” Jawabnya singkat.
“Sekolah kamu lancar, kan? Ayah dengar dari Jiel sama Abang, katanya kamu mau ikut olimpiade sains juga, ya? Hebat sekali kamu!” Puji Januar sambil mengusap kepala Athaya.
Athaya yang sedari tadi belum berani menatap mata ayahnya, kini mencoba untuk memberanikan diri. Ia menatap Januar dengan mata yang berkaca-kaca. Kedua tangannya meraih tangan Januar dan mengusapnya halus.
“Ayah.. Maafin Athaya..” lirihnya pelan.
“Athaya udah tau semuanya. Maaf selama ini Athaya egois.”
Air matanya menetes. Ia benar-benar merasa bersalah kepada Januar. Dalam hati ia merutuki dirinya sendiri atas sifat egoisnya selama ini.
Januar meraih tubuh Athaya dan membawanya ke dalam pelukan. Diusapnya punggung putrinya itu.
“Ayah sudah memaafkan kamu. Terima kasih juga sudah mau bertemu Ayah lagi.”
Athaya semakin mengeratkan pelukannya. Sudah lama sekali sejak terakhir kali ia merasakan pelukan ayahnya. Rasanya sangat hangat, dan ia sangat merindukannya.
“Ayah.. Athaya kangen..”
Tangisnya pecah. Athaya terisak di dalam pelukan ayahnya. Setelah tangisnya cukup reda, ia melepaskan pelukannya dan kembali duduk di bangku yang tersedia di sana. Tangannya kembali meraih tangan Januar dan menggenggamnya.
“Ayah, cepet sembuh, ya? Athaya pengen nanti Ayah ada waktu Athaya olimpiade.”
Januar tersenyum, “Iya sayang. Ayah pasti ada di sana nanti. Sebentar lagi Ayah pasti sembuh.”