Cafe
Setelah keributan di grup chat mereka, akhirnya Tala memutuskan untuk memakai pakaian yang dipilih oleh sahabat-sahabatnya. Takut mereka mengomel apabila Tala keras kepala memakai pakaian yang sebelumnya.
Kebetuan sore ini cuacanya mendung. Angin yang berhembus pun terasa dingin. Tidak salah jika Tala menggunakan pakaian itu.
Seperti yang telah direncanakan kemarin, Tala akan bertemu Marka di sebuah cafe yang telah mereka tentukan. Kini Tala sudah duduk di sebuah bangku di dalam cafe tersebut.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya yang dinanti pun tiba. Marka datang menghampiri Tala. Ia pun langsung duduk di hadapan Tala.
“Eh sorry ya lama”, ucap Marka yang baru saja mendudukkan dirinya di depan Tala.
“Iya gapapa kok Kak”
Marka pun membuka tasnya dan mengambil powerbank di dalamnya. Setelah itu ia memberikannya kepada Tala.
“Thanks ya La”
Tala hanya mengangguk. Kemudian ia memperhatikan Marka yang memegang sebuah kamera di tangannya.
“Suka fotografi ya Kak?”, tanya Tala penasaran.
“Iya suka”
“Kenapa ga ikut ekskul fotografi di sekolah Kak?”
“Engga ah. Gue suka fotografi cuma iseng doang kok. Kalo liat hal-hal yang cantik gue foto buat disimpen”
Tala mengangguk-angguk.
“Pasti Kak Marka sering ngefotoin pacar Kakak ya?”
“Eh? Hahaha”, Marka terkekeh.
“Gue gaada pacar sih La. Tapi akhir-akhir ini ada sih yang bikin gue tertarik”, jawab Marka sambil tersenyum kepada Tala.
Jantung Tala berdegup kencang. Tangannya mulai dingin karena gugup.
“Wah siapa tuh?”, tanya Tala.
Marka kemudian menunjukkan sebuah hasil fotonya kepada Tala. Dalam foto tersebut terlihat seorang gadis berambut panjang. Ia terlihat seperti Tala. Jantung Tala pun semakin tidak karuan.
'Eh kok mirip gue? Tapi kok gue ga yakin', batin Tala
“Kak..”
Marka tersenyum dan mengangguk.
“Iya, gue suka sama dia. Kembaran lo”
Jantung Tala rasanya seperti berhenti berdetak. Ia sangat terkejut. Ternyata seorang lelaki yang ia kagumi menyukai kembarannya sendiri.
“Karena gue duluan kenal sama lo, gue minta izin dulu deh sama lo. Gue mau deketin Tara boleh La?”
Tala tersenyum, mencoba menutupi rasa sakit hatinya.
“Iya boleh. Tapi janji bikin dia bahagia ya?”
“Siap”
Setelah pertemuannya dengan Marka tadi, kini Tala sudah sampai di rumahnya. Ia merebahkan tubuhnya di kasur dan menyetel musik keras-keras.
Ia menangis. Entah kenapa rasanya sakit sekali. Baru beberapa waktu ia mengenal Marka, kemudian ia merasakan jatuh cinta. Dan kini ia sudah harus merasakan patah hatinya?
Mungkin memang Marka bukan untuk dirinya.