Damai
Sedah seminggu mereka didiamkan oleh Tala. Sejak kejadian di hari terakhir ujian semester itu, mereka sangat jarang berkomunikasi satu sama lain. Bahkan sekedar menyapa saat bertemu pun tidak.
Kini mereka berada di tuang tengah rumah Tala. Suasana rumah itu sepi dikarenakan Mama Tala kembali pergi ke Jogja untuk mengurus sesuatu.
“Gue duduk ya”, ucap Jeno meminta izin kepada Tala.
Tala mengangguk. Kemudian ia pergi untuk mengambil kotak P3K. Setelah itu ia kembali lagi ke ruang tengah.
“Yang lain mana?”, tanya Tala.
Jeno mengangkat kedua bahunya.
Melihat jawaban Jeno, Tala menghela napas kasar. Ia mulai mengambil kapas dan obat merah dari dalam kotak P3K dan mulai mengobati luka Jeno.
Ia mulai dari membersihkan bagian siku, dilanjut dengan bagian-bagian lain yang terluka.
“Aduh, pelan-pelan La. Sakit”, ucap Jeno sambil meringis kesakitan.
“Udah tau sakit, kenapa masih ngeyel?”
“Kan gue udah bilang. Lo boleh balapan, tapi jaga diri jangan sampe kaya gini. Lo kenapa sih bisa sampe jatuh kaya gini?”
“Untung lo ga kenapa-kenapa. Lo ga mikirin kemungkinan terburuk kalo lo kecelakaan motor”, omel Tala.
Jeno tidak merespon sama sekali. Ia malah memperhatikan Tala yang sedari tadi mengomel sambil mengobati lukanya. Merasa diperhatikan, Tala pun menoleh ke arah Jeno.
“Apa liat-liat?”, ucap Tala sinis.
“Lanjutin. Jangan berhenti”, ucap jeno.
Tala menautkan kedua alisnya. Tidak paham dengan ucapan Jeno.
“Lanjutin ngomelnya. Mendingan lo marah-marah ke gue kaya gini daripada lo diemin gue kaya kemarin”, jelas Jeno.
Tala tidak merespon ucapan Jeno dan lanjut mengobati lukanya.
“La, maafin gue ya?”
“Kemarin gue terpaksa nganterin Tessa. Gue gaada apa-apa sama dia”
“Maaf juga gue ga ngabarin lo dulu. Gue tau gue salah”, ucap Jeno.
“Hmm”, Tala hanya merespon ucapan Jeno dengan deheman singkat.
“Buat masalah Saga, gue ga bermaksud gimana-gimana. Gue cuma takut kalo Saga berbuat sesuatu sama lo”
“Gue cuma gamau lo kenapa-kenapa La”, sambung Jeno.
Tala pun mengubah posisinya menjadi di samping Jeno dan menghadap ke arah Jeno. Ia menatap kedua mata laki-laki itu secara lekat.
“La, maafin ya?”, ucap Jeno sambil menatap mata Tala.
“Iya”
“Jadi damai nih?”, tanya Jeno.
“Lo pikir kita habis perang?”, ucap Tala sambil berusaha berdiri. Namun di tahan oleh Jeno.
“Duduk aja”, ucap Jeno.
Kemudian Jeno meletakkan kepalanya di atas paha Tala. Tala mencoba menolak dan berusaha berdiri, namun tetap ditahan oleh Jeno. Lalu Jeno meletakkan tangan Tala di atas kepalanya.
“Kaya gini dulu, sebentar aja. Boleh ya?”, pinta Jeno sambil menatap wajah Tala dari bawah.
Tala hanya mengangguk. Kemudian tangannya bergerak untuk mengusap kepala Jeno dengan pelan. Kemudian Jeno mulai memejamkan kedua matanya.
“Jangan luka lagi ya Jen”