Déjà vu(?)
Ditemani oleh beberapa kakaknya, Caca melangkahkan kakinya menuju ruangan dimana Taeil berada. Semuanya berjalan biasa saja. Hingga kemudian, mereka melewati sebuah lorong.
Sebenarnya tidak ada yang aneh dengan lorong itu. Terlihat seperti lorong rumah sakit pada umumnya. Namun, Caca merasakan sesuatu yang aneh.
Ia merasa familiar dengan tempat ini. Padahal, seingatnya ini adalah pertama kalinya ia menginjakkan kaki di sini.
Ia mulai gelisah. Semuanya terasa sangat aneh. Lorong itu sepi, namun telinganya menangkap suara gesekan antara roda dengan lantai.
Caca memijat pelipisnya pelan. Tiba-tiba pusing sekali rasanya. Tangan kanannya meraih tangan seseorang yang ada di sebelahnya.
Ia pun menoleh ke arah Caca yang secara tiba-tiba menggenggam erat tangannya. “Ca? Kenapa? Are you okay?”, tanya Winwin.
Yang lain pun ikut menoleh. “Dek, lo sakit ya?”, tanya Lucas.
“Enggak kok, Mas. Pusing dikit doang. Agak gaenak badan soalnya”
“Yaudah. Kita ke Mas Taeil sebentar, habis itu pulang ya”, ucap Winwin yang disetujui oleh semuanya.
Mereka melanjutkan langkahnya menuju ruangan Taeil. Rasa sakit di kepala Caca perlahan mulai menghilang. Namun, masih ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
Apakah ini deja vu?
Déjà vu, dari bahasa Prancis, secara harfiah “pernah dilihat”, adalah fenomena merasakan sensasi kuat bahwa suatu peristiwa atau pengalaman yang saat ini sedang dialami sudah pernah dialami di masa lalu. cr. wikipedia