Di tempat Bunda
Kini mobil yang mereka kendaraan telah menepi di sebuah halaman kosong yang terletak tidak jauh dari pemakaman. Raja keluar terlebih dahulu, kemudian ia beralih ke sisi mobil yang lain dan membuka pintu untuk Athaya.
Athaya meraih bunga yang terletak di bangku belakang, memegangnya dengan tangan kanan dan memandangnya sejenak. “Cantik,” Batinnya. Sedangkan tangan kirinya memegang ponsel yang menampilkan sebuah notifikasi dari Mahesa.
Kemudian pandangannya beralih ke Raja yang berdiri di luar mobil sambil menatapnya dengan senyum manis miliknya. “Bang Mahes nyusul kesini.” Ucap Athaya sambil keluar dari mobil.
“Yaudah. Kita kesana duluan aja.”
Mereka melangkahkan kaki bersama. Keduanya berjalan beriringan menuju tempat peristirahatan terakhir ibunda dari Athaya.
Jarak mereka dengan makam bunda hanya tersisa sekitar 10 meter saja. Namun, secara tiba-tiba Athaya menghentikan langkahnya.
“Kenapa?” Tanya Raja sambil menoleh ke arah Athaya. Kemudian ia mengalihkan pandangannya menuju arah pandangan Athaya sekarang. Di depan sana, terdapat dua orang laki-laki duduk di samping nisan ibunda Athaya.
Athaya masih terdiam. Matanya tertuju pada dua orang yang berada di depan sana.
“Aya? Kok masih disini?” Panggil Mahesa yang tiba-tiba datang menghampiri mereka.
Suara Mahesa pun membuat kedua orang di depan sana turut menoleh. Ya, mereka adalah Hazriel dan Ayahnya.
Januar— ayah dari mereka, mencoba untuk berdiri dengan sedikit bantuan dari Hazriel yang ada di sampingnya. “Athaya!” Panggilnya.
Tubuh Athaya membeku. Tangan kanannya menjatuhkan bunga tulip berwarna merah muda yang sedari tadi berada di genggamannya. Kemudian ia berlari keluar dari area pemakaman.
“Athaya!” Panggil Raja yang masih mencerna apa yang sedang terjadi saat ini.
“Athaya biar sama gue. Lo boleh pulang atau temenin Jiel sama ayah.” Ucap Mahesa. Kemudian ia pun berlari mengejar Athaya.