Dia kembali

Setelah sampai di kawasan Rumah Sakit, Tala bergegas menuju kamar tempat dimana Jeno dirawat. Dirinya panik, takut akan ada kabar buruk yang akan menyambutnya. Tapi semoga saja kabar baik yang menyambutnya.

Saat sampai di depan ruangan Jeno, terlihat Mama Jeno dan Dokter Juan sedang berbincang disana. Kemudian Mama Jeno pun menyadari kehadirannya.

“Tala.. Jeno kembali.. Dia kembali bersama kita lagi..”, ucapnya sambil berkaca-kaca.

“Jeno bangun, La. Dia nyariin kamu”

Lega. Itu yang dirasakan Tala sekarang. Batinnya tak berhenti mengucap syukur kepada Tuhan yang telah menyelamatkan nyawa Jeno. Kemudian ia tangannya meraih gagang pintu dan membukanya perlahan. Disana terlihat Rendra yang berdiri di samping Jeno yang kemudian memberi Tala kode untuk masuk.

“Gue tinggal dulu ya”, ucap Rendra sambil berjalan meninggalkan mereka.

Tala melangkah pelan menuju ranjang Jeno. Jeno yang terbaring disana menatap lekat gadis didepannya. Tatapan yang mengisyaratkan perasaan rindu yang amat dalam.

“Tala..”, ucapnya pelan.

Yang dipanggil tidak memberikan respon apapun. Ia hanya menatap kosong lurus kedepan.

“Tala maafin gue.. Gue udah bohong sama lo..”

“Mau denger penjelasan dari gue?”

“Gausah, gue udah tau semuanya”, jawabnya singkat.

Jeno meraih tangan Tala, dan membuat Tala menatapnya. “Maafin gue ya?”

Tatapan Jeno masih sama seperti beberapa tahun yang lalu. Tatapan memohon yang terlihat sangat menggemaskan agar Tala mau memaafkannya.

“Iya”, jawabnya singkat padahal jantungnya berdegup sangat cepat.

Sudah lama sekali sejak pertemuan terakhir mereka. Sudah lama pula sejak terakhir saling bertukar kabar. Bahkan perpisahan mereka pun sedikit kurang mengenakkan. Keduanya, sama-sama menyimpan rasa rindu yang amat dalam.

Jeno membangkitkan tubuhnya. Merubah posisinya yang semula berbaring menjadi duduk.

“Lo mau ngapain? Tiduran aja deh, lo masih sakit”

Jeno tak menghiraukan ucapan tala. Setelah posisi duduknya dirasa sudah nyaman, ia melapangkan kedua tangannya dan menarik tubuh Tala kedalam pelukannya.

“Gue kangen banget sama lo. Maafin gue”, ucapnya lembut sambil mengusap rambut Tala.

Tala terkejut. Tubuhnya menegang. Ia membalas pelukan lelaki di depannya itu. Kalau boleh jujur, ia juga merasakan hal yang sama.

'Gue juga kangen sama lo, Jen', batinnya.

“Maaf mulu, lebaran masih lama kali ah”

Jeno terkekeh mendengar jawaban Tala. Kemudian Tala melepaskan pelukan Jeno secara perlahan.

“Gue tinggal ya? Gue ada kerjaan. Jangan banyak tingkah biar cepet pulih”, ucapnya sambil memakai jas dokternya.

“Siap Bu Dokter. Sering-sering kesini ya”, tawa Jeno.

Tala hanya tersenyum tipis, lalu ia beranjak dari tempatnya.