Epilog
Beberapa tahun kemudian.
Cahaya matahari senja menyinari pantai sore itu. Ditemani dengan suara deburan ombak dan hembusan angin khas pantai. Mereka berdua duduk di tepi pantai sambil memandangi matahari terbenam.
“Senja cantik ya, Jen?”, ucap Tala.
“Iya. Cantik kaya Tala”, jawab Jeno yang dibalas senyuman oleh Tala.
“Tapi aku ga suka senja. Aku sukanya Tala”, lanjutnya.
“Kenapa gitu ga suka senja? Katanya cantik?”
Jeno menarik tubuh gadis disampingnya agar jarak mereka lebih dekat. Ia juga mengusap kepala gadisnya itu dengan tangan kanannya.
“Senja emang cantik, tapi cuma bisa dinikmati sebentar. Kalau Tala cantik, dan aku mau menikmati kecantikan Tala sampai kapanpun”, jawabnya.
Tala tidak dapat menyembunyikan senyumnya. Kalimat sederhana yang diucapkan oleh seseorang di depannya itu berhasil membuat jantungnya berdegup kencang.
Jeno melepaskan rangkulan tangannya kepada Tala sebenta. Ia sedikit membenarkan posisi duduknya dan mengambil sesuatu dari saku belakangnya.
“Biar bisa menikmati kecantikan kamu selamanya, berarti kamu harus jadi milik aku dulu”
Jeno membuka kotak merah kecil di tangan kirinya, terlihat sebuah cincin mungil yang sangat cantik disana.
“So, will you be the only girl that i love of the rest of my life?”
Bukannya merasa baper, namun Tala malah tertawa terbahak-bahak sambil memukul-mukul lengan Jeno.
“Jen sumpah tapi aneh banget obrolan kita barusan, pake aku-kamu”, tawa Tala.
“Lagi mau romantis juga ih”
“Jadi gimana? Will you marry me?”
“Yes, i will”, jawab Tala yang dilanjutkan dengan tawa keduanya.
Sore itu, di sebuah pantai di pinggir kota Jakarta. Mereka memutuskan untuk lanjut ke jenjang selanjutnya dan akan menghabiskan hidup bersama. Walau gagal untuk mencoba romantis, tapi keduanya merasa sangat bahagia. And this is the end of Jeno & Tala.