Epilog

Caca mengernyitkan dahinya. Ia merasa familiar dengan pria yang berada di depannya ini.

“Kamu kenal sama aku?”, tanya Caca.

“Ah, sebenarnya kita belum kenalan”

“Kamu udah disini selama kurang lebih tiga minggu”, jelasnya.

“Hah? Lama banget?”

“Iya. Waktu itu, aku lihat kamu kecelakaan di perempatan deket minimarket. Kepalamu terbentur lumayan parah. Duh, ngeri ah jelasinnya. Dan aku bawa kamu kesini”, ucap Ale menjelaskan.

“Jadi aku semacam koma gitu? Tiga minggu?”

Ale mengangguk.

“Terus biayanya siapa yang urus? Duh gimana ya, Le. Aku hidup sendirian, ga punya siapa-siapa”, jawab Caca cemas.

“Tenang aja, ini rumah sakit punya keluarga aku kok”, jawab Ale santai.

Caca terkejut mendengarnya. 'Kaya juga si Ale ini', batinnya. Kemudian seseorang mengetuk pintu dan memasuki ruangannya.

“Ah itu Papa aku. Dia dokter di sini, dia mau cek kondisi kamu”

Caca memandangi pria dewasa yang datang lengkap menggunakan seragam dokter itu. “Dr. Jeffrey”, nama yang tertera di baju seragamnya.

“Halo Caca? Sudah merasa baikan?”, tanya Dokter Jeffrey.

“Sudah, Dok”

“Setelah ini, kamu tinggal bersama keluarga saya. Kebetulan istri saya sejak lama pengen sekali punya anak perempuan. Kamu tinggal sendirian kan?”

Caca tersenyum canggung.

“Apa nggak terlalu merepotkan ya, Dok?”, tanya Caca.

“Ah, tidak. Justru kami akan senang jika ada anggota keluarga baru. Apalagi Ale, dia pasti senang punya adik perempuan. Iya kan, Le?”

“Hehehe, iya dong”, jawab Ale sambil tersenyum.

Setelah hari itu, Caca benar-benar pindah dan menjadi anggota keluarga baru Dokter Jeffrey. Dan kini, ia benar-benar memulai kehidupan barunya.

End.