Healing

Matahari siang ini cukup terik. Namun mereka tak khawatir karena mereka terlindungi oleh pohon pohon rindang di atas mereka. Angin pun berhembus membelai kulit mereka dan sesekali membawa rambut panjang Athaya berterbangan.

Mereka duduk di bawah pohon yang rindang, menghadap ke arah hamparan alam yang terlihat bak lukisan indah di depan mereka. Mereka berada di wilayah yang bisa dibilang cukup tinggi. Jadi mereka bisa melihat pemandangan cantik dari tempat mereka.

Raja berdiri, ia menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia memejamkan matanya dan merentangkan kedua tangannya. Menikmati tubuhnya yang kini diterpa angin yang datang.

Athaya sedari tadi hanya duduk memperhatikan apa yang dilakukan pria yang bersamanya itu. Belum ada obrolan di antara keduanya hingga Athaya membuka suara.

“Mending lo teriak sekalian, biar lega.” Ucapnya.

Raja menoleh sebentar ke arah Athaya. Kemudian ia kembali melanjutkan kegiatannya.

“AAAAAAAAAA!” Teriak Raja lantang. Kemudian ia kembali duduk di sebelah Athaya.

“Gitu?” Tanya Raja.

Athaya tersenyum dan mengangguk. Tanpa sadar tangan kanannya tergerak untuk merapikan rambut Raja yang sedikit berantakan karena angin

Tubuh Raja membeku sejenak. Pipinya memanas, mungkin sebentar lagi akan bersemu merah. Ia memalingkan wajahnya ke sisi lain yang tidak dapat dilihat oleh Athaya. Malu, katanya.

Athaya menarik tangannya dengan canggung. Sial, gue barusan ngapain, batinnya. Kemudian terjadi keheningan selama beberapa menit di antara mereka.

“Papa selalu maksa gue buat belajar bisnis.” Ucap Raja secara tiba-tiba yang membuat Athaya menoleh ke arahnya.

Athaya membenarkan posisi duduknya. Kini ia duduk menghadap ke arah Raja. Kemudian ia mengangguk, memberi isyarat bahwa ia siap mendengarkan segala keluh kesahnya.

“Gue punya kakak, namanya Mas Wisnu. Dulu, rencananya Mas Wisnu yang bakal nerusin bisnis Papa. Tapi, tahun lalu Mas Wisnu meninggal.”

“Mama ga bisa nerima kalo Mas Wisnu udah ga ada. Dan ya, you know what happened. Mama jadi kaya sekarang.”

She really loves him, sampai Mama cuma inget Mas Wisnu anaknya. Bahkan dia selalu nganggep gue sebagai Mas Wisnu”

“Dan Papa. Setelah Mas Wisnu ga ada, Papa selalu maksa gue belajar bisnis. Padahal semua juga tau kalo gue ga minat sama sekali di dunia perbisnisan.”

“Bahkan Papa ga pernah nanya apa yang mau gue lakuin. Dulu, di mata mereka berdua cuma Mas Wisnu. Gue kayak cuma cadangan doang ketika Mas Wisnu udah ga ada.”

“Tapi gue sayang sama Mas Wisnu. Sayang Banget. Bahkan kalo bisa gue mau tuker, biar gue aja yang gantiin Mas Wisnu men—”

Raja belum sempat menyelesaikan ucapannya. Namun Athaya sudah menariknya ke dalam pelukannya.

“Don't you dare to say that.” Peringat Athaya.

Raja membalas pelukan itu dan semakin mengeratkannya. Athaya pun mengusap punggung Raja untuk memberi ketenangan.

“Ga ada yang sayang sama gue, Ya.” Ucap Raja.

“Gue,”

“Gue sayang sama lo.”