Him

Tala masih duduk di halte dekat SMA Neo. Dirinya makin gelisah karena dua pria yang memperhatikannya sejak beberapa menit yang lalu mulai mendekati dirinya.

Ia masih mencoba menghubungi Jeno, namun hasilnya tetap nihil. Jeno tidak mengangkat panggilan darinya. Bahkan membaca pesan dari Tala saja tidak.

Kini kedua pria tersebut sudah berada di hadapan Tala. Ia dibuat merinding dengan kehadiran mereka. Apalagi dengan penampilan mereka yang tampak seperti preman yang ganas.

“Anak SMA Neo ya neng? Kok sendirian aja?”, tanya salah satu dari mereka.

“Ini udah mau gelap loh. Mending ikut main sama kita”, ucap yang lain dengan ekspresi genit yang membuat Tala semakin merinding.

Tala hanya terdiam. Tidak menghiraukan perkataan mereka sama sekali. Ia pun mengubah posisinya yang tadinya duduk di halte menjadi berdiri mendekati tepi jalan.

Kedua pria tersebut masih mengganggunya. Tala ingin melawan, namun takut jika mereka malah berlaku kasar.

“Ayolah neng sini ikut sama kita. Daripada sendirian disini, serem tau”, ucap salah satu dari mereka sambil mencoba meraih tangan Tala.

Tiba-tiba sebuah motor sport berhenti di depan mereka. Terlihat seorang pria memakai jaket kulit hitam dan helm hitam duduk di atasnya.

“Maaf bang, ini cewe saya. Jangan digangguin ya”, ucap pria tersebut.

“Aku kelamaan ya? Maafin aku ya”, ucapnya kepada Tala.

Tala mengernyit bingung. Pasalnya, ia tidak mengenal pria misterius di atas motor itu.

“Ayo naik”

Tala pun menurut dan menaiki bagian belakang motor itu. Kemudian motor itu melaju meninggalkan tempat tadi.


Setelah beberapa menit berjalan, motor yang tadinya melaju kencang itu mulai menepi. Mereka berhenti di tepi jalan yang tidak terlalu ramai.

“Sorry ya, gue tadi ngaku-ngaku jadi pacar lo”, ucap pria itu tanpa melepas helm-nya.

“Eh, iya gapapa. Gue malah makasih sama lo udah nyelametin gue dari mereka”, jawab Tala.

“Btw lo mau kemana? Gue anterin deh”

“Sebenernya gue mau ke toko buku. Tapi gue mau pulang aja deh kayanya”, jawab Tala.

“Eh gue juga mau ke toko buku. Sekalian aja gimana?”

“Yaudah deh”

Kemudian pria itu kembali melajukan motornya menuju tempat yang maksud.


Setelah sampai, mereka pun memasuki toko buku tersebut dan mulai mencari barang-barang yang mereka butuhkan.

“Oh iya kita belum kenalan. Nama gue Tala, lo siapa?”, tanya Tala.

“Gue Saga, anak SMA Nusantara. Kebetulan tadi lewat SMA Neo terus gue ngeliat lo”, jawabnya.

Tala merasa tidak asing dengan nama Saga dari SMA Nusantara. Namanya mirip dengan pria yang disebut pernah adu jotos dengan Jeno sahabatnya.

Melihat ekspresi Tala, Saga pun menebak. “Lo pasti pernah denger nama gue. Iya gue yang pernah berantem sama Jeno dulu”

Tala hanya ber-oh ria sambil sedikit mengangguk-angguk.

“Btw gue minta maaf ya. Dulu gue mau jadiin lo bahan taruhan sama Jeno. Gue nyesel”

Melihat Tala yang tidak merespon sama sekali, Saga pun melanjutkan kalimatnya.

“Serius gue bukan orang jahat kok La”, ucap Saga meyakinkan.

“Iya gapapa. Lagian lo tadi juga udah nolongin gue kan. Yaudah”, jawab Tala santai.

Kemudian mereka melanjutkan aktivitas mereka. Mengelilingi setiap rak di toko buku tersebut. Namun tiba-tiba terlihat sosok yang familiar berdiri 10 meter di depan mereka.

“La, itu Jeno kan?”, tanya Saga sambil menunjuk arah depannya.

Pandangan Tala pun menuju arah telunjuk Saga. Benar, itu Jeno. Bersama seorang gadis di sampingnya, yaitu Tessa.

“Saga, kita pulang sekarang aja ya? Anterin gue”, minta Tala.

Saga pun menuruti permintaan Tala. Kemudian mereka pergi meninggalkan tempat tersebut.