Kamar Tala.
“Talaaa, bukain dong”, teriak Echan, Jevan, Rendra, dan Jeno bersamaan.
Mereka berempat sudah berada di rumah Tala, tepatnya di depan pintu kamar Tala. Menunggu mendapat jawaban dari seseorang di dalam sana.
“Masuk aja ga dikunci”
Kemudian mereka berempat memasuki kamar Tala. Terlihat Tala sedang duduk di tepi kasurnya sambil menatap ke arah mereka.
“Bawa apaan tuh”, tanya Tala karena melihat kantong kresek yang mereka bawa.
“Ini martabak, yang dibawa Jeno chatime, yang dibawa Jevan jajanan indoapril”, jawab Echan.
“Yaudah duduk”
Tala duduk menghadap keempat sahabatnya itu. Ia mencoba meraih kantong kresek yang dibawa Echan, namun ditarik kembali oleh Echan.
“Dih main ambil aja. Dimaafin ga nih?”
“Kalo ga dimaafin kita balik, kita makan sendiri”, timpal Rendra.
“Ck, iya dimaafin. Tapi jangan boongin gue lagi. Kalo ada apa-apa cerita”
Keempatnya pun mengangguk setuju.
“Lagian kalian ngapain sih aneh-aneh pake ikutan geng motor segala? Ya sebenernya keren sih mirip di wattpad gitu. Tapi kalo kalian kenapa-napa gimana? Masih SMA juga udah banyak tingkah”, omel Tala.
“Widih, jadi keren nih?”, ucap Jevan yang hanya dibalas lirikan sinis oleh Tala.
“Sebenernya ga se-serem yang lo bayangin La”, ucap Rendra.
“Kita kaya temen tongkrongan biasa kok. Palingan cuma ngumpul, ngobrol, gitu doang”, tambah Jeno.
“Gitu doang, hm?”
“Ya paling kadang balapan. Kalo ada yang nantangin sih”, timpal Echan.
“Gila lo. Kalo ada apa-apa gimana?”
“Gabakal, Tala. Percaya sama kita”, ucap Jeno meyakinkan.
“Tapi serius ga aneh aneh kan?”, selidik Tala.
“Astaghfirullah, La. Kita masih tau kali mana yang bener mana yang engga”, jawab Echan.
“Yaudah”, tutup Tala.
Kemudian Tala memasukkan sepotong martabak ke dalam mulutnya. Sedangkan keempat sahabatnya hanya memandanginya.
“Bagi atuh neng”, ucap Echan – menginginkan makanan itu.
“Ga, kan buat gue”
“Astaghfirullah sabar”
“Becanda sayang, sini makan”
Lalu mereka pun makan bersama.