Kantin, jam istirahat
Echan dan Jevan sudah berada di kantin. Mereka ditemani oleh Ale dan Aji, adik kelas yang sering berkumpul bersama mereka. Kemudian Jeno dan Rendra pun bergabung ke meja mereka.
“Darimana Bang?”, tanya Aji setelah melihat kedatangan mereka.
“Ruang guru, biasa nganter tugas”, jawab Jeno.
“Anak rajin mah beda”, ucap Echan.
“Kalo lo kapan rajinnya Bang?”, tanya Ale usil kepada Echan.
Rendra pun menyahut, “Pertanyaan lo gabisa dijawab Le. Mustahil Echan rajin”
“Ye sialan”
Jeno meminum es kopi di hadapannya sambil memperhatikan setiap sudut kantin. Namun ia tidak menemukan sosok yang ia cari.
“Tala kok ga keliatan?”, tanya Jeno.
Echan yang sedang mengunyah batagor pun hanya mengangkat kedua bahunya. “Gatau deh, chat kita aja belom dibales kan?”, jawabnya.
“Tala siapa Bang? Anak baru yang kemarin masuk base sekolah?”, tanya Aji.
Jevan pun menjawab, “Iya, dia temen kita dari kecil. Tetanggaan juga”
Aji hanya ber-oh ria.
Tiba-tiba Ale menyahut, “Jadi sahabatan dari kecil? Gaada yang naksir gitu?”
Rendra, Jevan, dan Echan hanya tertawa. Mereka juga melirik jahil ke arah Jeno.
“Coba lo tanya Jeno”, ucap Rendra.
Jeno menautkan kedua alisnya, “Dih kok gue?”
Aji dan Ale pun mengangguk paham.
“Paham nih gue paham”
“Diem lo bocah”, ucap Jeno kesal.
Mereka sedang asik dengan makanan mereka masing-masing. Sedangkan Jeno sibuk memainkan ponselnya, entah apa yang ia lakukan.
Tiba-tiba Jeno memasukkan ponselnya ke dalam saku dan berdiri dari tempat duduknya.
“Mau kemana Jen?”, tanya Jevan.
“Beli jus”
“Buat?”, tanya Rendra.
“Tala”
Kemudian Jeno meninggalkan mereka dan berjalan menuju kedai jus di ujung kantin.
“Tuh kan. Gitu tuh kelakuannya tapi gamau ngaku kalo naksir”, ucap Echan sambil menunjuk arah Jeno.