Kembali

Caca membuka matanya, kini ia berada di sebuah rumah yang sama persis dengan rumah yang ia tinggali dengan saudara-saudaranya. Namun ia bingung, dimana mereka semua?

Ia berjalan mengelilingi rumah, hingga sampai pada ruang tengah. Ternyata, mereka semua ada di sana. Di tempat biasanya mereka berkumpul menghabiskan waktu bersama.

Ia hendak menghampiri mereka. Namun, seseorang menepuk pundaknya dari belakang. Dia sangat mirip dengan Chenle. Namun, Chenle juga ada di antara saudara-saudaranya yang lain. Ia bertanya-tanya, 'Kenapa Chenle ada dua?'

“Namaku Ale”, ucap pria yang berada di belakangnya itu.

“Ale siapa?”, tanya Caca.

Pria bernama Ale itu tersenyum.

“Kamu penasaran aku siapa? Kamu mau kenalan sama aku?”

Caca mengangguk.

“Kalau kamu mau, kamu harus ikut sama aku dulu”

Caca bingung, apakah ia harus ikut bersama pria bernama Ale itu, atau bergabung dengan saudaranya yang lain. Ia memandang Ale dan saudaranya secara bergantian. Ia sangat bingung sekarang.

“Caca, kamu harus ikut dia”, ucap Johnny.

“Kenapa? Tapi Caca masih mau sama kalian”

“Ikut sama dia, Caca. Percaya sama kita, dia lebih tau dimana tempat kamu sebenarnya”, ucap Taeyong.

Caca mengangguk. Kemudian mereka memeluk Caca secara bergantian, sebagai tanda perpisahan.

“Caca bakalan kangen sama kalian”, lirihnya.

“Ayo, ikut aku”, ajak Ale sambil mengulurkan tangannya.

Ia meraih tangan Ale, dan mereka pergi meninggalkan para keturunan Keluarga Ganendra.


Kepalanya terasa sangat nyeri. Sangat sulit, namun ia mencoba membuka matanya secara perlahan. Penglihatannya menangkap objek dinding bernuansa putih yang mengelilinginya.

Kesadarannya mulai kembali. Terasa sebuah tangan menggenggam tangan kanannya. Seorang pria yang duduk di kursi sambil meletakkan kepalanya di samping tubuh Caca.

“Kamu siapa?”, tanya Caca.

Mendengar itu, pria tersebut langsung mengangkat wajahnya dan memandang ke arah Caca.

“Halo”, pria itu tersenyum.

“Namaku Ale”