Koridor Rawat Inap
Sudah lebih dari 1 tahun Tala menjalani masa koas nya. Kini ia masih menyandang status sebagai dokter muda atau yang biasa disebut koas itu. Jangan ditanya lagi bagaimana keadaannya bagaimana. Sudah jelas dia pusing. Apalagi ketika bertemu dokter senior yang galak dan menyebalkan. Jangan lupakan setumpuk pekerjaan yang harus ia lakukan, termasuk catatan pasien berlembar-lembar yang harus ia kerjakan.
Kini Tala sedang berjalan melewati koridor kamar rawat inap. Suasana siang ini cukup ramai. Terlihat banyak orang yang mungkin menjenguk keluarga atau kerabatnya yang sedang dirawat disana.
Tala menyipitkan kedua matanya. Inderanya menangkap sosok yang familiar untuknya sedang berdiri di ujung koridor. Ternyata, orang itu adalah Jevan. Lalu Tala pun bergegas untuk menghampirinya.
“Jev?”, panggil Tala.
“Lo ngapain disini?”
Yang merasa terpanggil pun menoleh dan terkejut. “E-eh Tala. Biasa nganter nyokap kontrol”
Tala menautkan kedua alisnya. Dirinya merasa ada yang aneh dengan sahabatnya itu.
“Nyokap lo kontrol? Setau gue dokter yang biasa nanganin nyokap lo gaada praktek hari ini deh. Apa gue salah?”
“Oh iya, lagian ini koridor rawat inap. Kalo kontrol kan bukan disini. Dan gue juga yakin lo udah hapal ruangan disini, jadi ga mungkin lo nyasar”
Jevan gelagapan. Dirinya panik. “Jevan goblok”, batinnya.
Kemudian salah satu pintu ruangan pasien yang letaknya tak jauh dari sana terbuka. Menampakkan seorang Echan keluar dari sana.
“Jev, lo- eh Tala”, ucap Echan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Siapa di dalem?”, tanya Tala.
Keduanya diam. Saling melemparkan tatapan satu sama lain. Tidak ada yang berani membuka suara diantara keduanya.
“Yang ada di dalem siapa, Jev, Chan?”
“Kasih tau gue atau gue masuk kesana sekarang?”
Keduanya masih diam. Mereka sama-sama takut untuk membuka suara.
“Oke gue masuk”, final Tala.
Tala melangkah menuju pintu ruangan itu. Tangannya meraih gagang pintu dan membukanya perlahan. Tampak seseorang terbaring lemah di atas ranjang dengan pakaian khas pasien serta beberapa alat yang terpasang di tubuhnya.
Tubuh Tala mulai bergetar. Matanya berkaca-kaca. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang ia lihat dengan matanya.
“Nggak. Nggak mungkin..”, ucap Tala setelah menutup kembali pintu ruangan itu.
“Itu bukan Jeno kan?”, ucapnya lirih.
“JEV, CHAN BILANG KE GUE ITU BUKAN JENO KAN??”
“Itu Jeno, La. Jeno yang kita kenal”, jawab Jevan.
“Nggak mungkin Jev.. Enggak, itu bukan Jeno..”
Tangisnya pecah, bahunya bergetar hebat. Melihat seseorang yang masih sangat ia sayangi terbaring lemah disana dengan berbagai alat menempel di tubuhnya. Sakit rasanya, sakit sekali. Seperti ditimpa batu seberat ribuan ton. Tala benar-benar hancur.
Jevan dan Echan mengusap bahu Tala. Mencoba untuk menenangkannya. Tak lama kemudian, Dokter Juan datang menghampiri mereka.
“Kak, Jeno kenapa?”, tanya Tala sambil medekat ke arah Dokter Juan.
“Nanti kakak jelasin ke kamu. Kakak cek kondisi Jeno dulu ya”
“Jangan nangis, Jeno gamau lihat kamu sedih kaya gini”, ucap Dokter Juan sebelum masuk ke ruangan Jeno.