Mama
Seperti biasa, tidak ada obrolan di antara keduanya. Raja yang sibuk mengendarai mobilnya yang melaju di jalanan kota. Dan Athaya yang memandang keluar jendela sembari bersenandung pelan mengikuti nada dari musik yang mengalun di dalam mobil Raja.
Setelah beberapa lama, mobil yang ditumpangi oleh mereka memasuki halaman luas sebuah bangunan putih yang berdiri tinggi dan kokoh. Di depan sana terpampang jelas tulisan “Rumah Sakit Jiwa Nusa Pelita”
Athaya mengerutkan dahinya dan menengok ke arah Raja. Matanya memberi sinyal, seolah dia bertanya, “Di sini tempatnya?”
Meskipun pertanyaan tersebut tidak diucapkan melalui kata, namun Raja mengerti apa maksud Athaya. Ia pun membalasnya dengan sebuah anggukan.
“Ayo”, ucap Raja.
Mereka telah melewati lorong demi lorong, hingga kini mereka sampai di depan sebuah ruangan dengan pintu berwarna putih. Di sana terdapat sebuah nama yang bertuliskan 'Amanda Kania'.
Raja membuka pintu dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya digunakan untuk membawa sebuket bunga mawar putih favorit mamanya. Kemudian ia berjalan masuk, dan diikuti oleh Athaya.
“Eh, Mas Raja. Ibu lagi duduk di balkon, Mas langsung kesana aja”, ucap Suster Nina.
“Iya, Sus. Makasih ya”
Raja melangkahkan kakinya mendekati seorang wanita paruh baya yang sedang duduk menghadap ke luar. Ia menekuk lututnya di samping wanita itu, dan merangkul pundaknya.
“Mama”, sapanya.
Wanita itu menoleh, “Eh, anak mama”, kemudian ia memeluk tubuh Raja.
“Loh, ini anak cantik siapa?”, tanya Amanda setelah menyadari keberadaan Athaya yang sedari tadi berdiri di belakang Raja.
“Saya Athaya, Tante”, jawabnya sambil menundukkan kepala.
“Dia temen aku, Ma”
“Cantik sekali, seperti bunga mawar putih yang dibawa Wisnu”, ucap Amanda sambil mengusap punggung Raja.
Athaya tersenyum kikuk. Dalam hati ia bertanya-tanya, Wisnu siapa? Seingatnya tidak ada nama Wisnu di dalam nama panjang Raja.
Raja hanya tersenyum getir menanggapinya. Kemudian mereka menghabiskan waktu bersama Amanda disana.