074.

Nadine kini telah menginjakkan kakinya di ujung kantin fakultas ilmu sosial dan politik. Ia berhenti sejenak. Matanya menelusuri dari ujung ke ujung, mencoba menemukan sosok yang ia cari.

Penglihatannya terhenti pada sesosok pria dengan kemeja biru tua yang duduk sambil melambaikan tangannya ke arah Nadine, sambil memamerkan senyum manisnya. Tangganya juga melambai, mengisyaratkan Nadine untuk mendekat ke arahnya.

Nadine pun berjalan menuju sosok pria itu. Kemudian ia duduk di bangku yang berada di depannya.

“Lama, ya?” Tanya Nadine.

Hanan mengangguk. “Iya, lama banget. Sampe mau jadi batu nih ciloknya.” Jawabnya dengan nada bercanda.

“Lebay.” Cibir Nadine.

Nadine meraih piring yang berisi satu porsi cilok didepannya. Ia hendak menyuap satu buah cilok ke dalam mulutnya. Rambut hitamnya yang terurai panjang pun jatuh terurai ke depan, hampir mengenai sambal.

Hanan yang melihat itu langsung berdiri dari tempat duduknya. Ia berpindah tempat menjadi duduk di sebelah Nadine. Tangannya meraih rambut Nadine yang terurai bebas agar tidak mengenai sambal.

“Lain kali rambutnya diiket, Dine. Hampir kena sambel nih.” Peringat Hanan.

“Iya. Tadi iket rambut gue ilang, lupa deh gue taruh di mana.” Jawabnya sambil meraih rambut panjangnya yang berada di genggaman Hanan.

“Sebentar.” Hanan berdiri, berjalan menuju salah satu penjual yang ada di sana. Kemudian ia kembali dengan sebuah karet gelang di genggamannya.

Hanan kembali duduk di samping Nadine. Ia mengarahkan tubuh Nadine untuk membelakanginya. Kedua tangannya bergerak meraih seluruh rambut hitam nan panjang kepunyaan Nadine. Mengikatnya dengan rapi, meski hanya menggunakan karet seadanya.

“Nah, gini kan enak lo makannya.” Ucap Hanan setelah menyelesaikan kegiatannya.

“Makasih.”