Papa dan Raja
Raja keluar dari garasi mobil rumahnya dan berjalan menuju ruang depan. Tangan kanannya memegang kenop pintu lalu membukanya.
Di sana, terlihat Dewa— Papa dari Raja duduk di atas sofa sambil menatap datar ke arahnya.
“Kemana aja baru pulang?” Tanya Dewa.
“Raja udah bilang kalo ada bimbingan buat olimpiade.”
“Sampai selarut ini?”
“Ya”
Suasana di antara mereka sangat canggung, tidak seperti ayah dan anak biasanya. Memang, keluarga mereka sudah seperti ini sejak beberapa tahun yang lalu.
“Kalau gaada yang mau diomongin, Raja ke kamar.” Ucap Raja sambil melangkahkan kakinya.
“Kamu kapan mau mulai belajar bisnis?” Tanya Dewa yang berhasil membuat Raja menghentikan langkahnya.
“Raja udah bilang kan, Pa? Raja ga tertarik sama dunia bisnis.”
“Papa izinin kamu masuk jurusan IPA dan ikut olimpiade bukan berarti Papa setuju sama cita-cita kamu.” Tegas Dewa.
“Pa, aku gamau berantem.” Jawab Raja pelan. Ia kini berdiri menghadap ke arah Dewa dengan tas ransel yang masih ada di bahunya.
“Papa cuma mau kamu nerusin bisnis Papa!” Dewa mulai berdiri dari tempatnya dan menatap tajam ke arah Raja.
“Kalau masih ada Wisnu, Papa ga akan maksa kamu kaya gini. Emangnya kamu bisa bikin Wisnu balik?” Ucap Dewa dengan nada semakin meninggi.
“Pa, Raja capek. Raja ga mau kelepasan bentak Papa. Kita stop kalo Papa mau ngungkit masalah Mas Wisnu lagi”
“Raja ke kamar.” Final Raja. Ia pun berjalan menuju kamarnya tanpa menghiraukan Dewa yang masih berada di tempatnya.