Penyesalan

Operasi telah berlangsung. Suasana tegang menyelimuti ruang tunggu operasi. Mereka semua tak henti merapalkan doa untuk seseorang yang berada di dalam sana.

Mama Jeno mendudukkan dirinya disamping Tala. Kemudian beliau meraih bahu gadis yang sedang menangis di sampingnya dan membawanya ke dalam pelukan.

“Tala, tante menyesal. Tante merasa gagal menjadi seorang ibu. Tante gagal melindungi Jeno. Bahkan kondisi Jeno yang seperti ini saja tante tidak tau”, tangis yang ia tahan sedari tadi pun pecah.

“Tante enggak gagal jadi seorang ibu. Tante berhasil membuat Jeno menjadi manusia yang sangat tangguh sejak kecil”, jawab Tala.

“Tante tau? Jeno sayang banget sama tante. Waktu kecil, setiap dia ulang tahun, Tala selalu tanya ke Jeno apa permohonan dia. Dan tante tau apa jawabannya?”

“Jeno bilang, Jeno cuma mau mama papa bahagia”, lanjut Tala sambil menyeka air matanya.

“Jeno anak yang kuat, Tan. Selama ini dia menyimpan seluruh bebannya sendirian”

“Tapi sekarang Tala takut, Tan. Tala takut Jeno merasa lelah dan menyerah”

Tangis keduanya semakin pecah. Terpikirkan hal hal buruk yang bisa terjadi kapan saja.

“Tante bener-bener merasa nggak berguna. Tante ga pernah ada saat Jeno berada di masa-masa sulitnya. Tante menyesal, La”

Mendengar emosi keduanya mulai tidak terkontrol, Papa Jeno dan Rendra pun menghampiri mereka berdua.

“La, udah ya. Kita berdoa semoga Jeno bisa ngelewatin semuanya dengan lancar dan bisa kumpul lagi sama kita”, ucapnya sambil mengusap punggung Tala.

Papa Jeno pun juga mencoba menenangkan istri disampingnya itu.

Setelah cukup lama operasi berlangsung, pintu ruang operasi pun terbuka. Terlihat Dokter Juan keluar dari ruangan tersebut, masih lengkap dengan pakaian khas dokter saat mengoperasi pasien dan berjalan menuju orangtua Jeno.

“Operasinya berhasil”, ucapnya.

Semua orang yang mendengarnya menghela napas lega.

“Tapi, kondisi Jeno sangat lemah. Kita belum tau kapan dia akan sadar”, lanjutnya.


“Tala mau masuk ke dalam?”, tanya Mama Jeno.

Tala menggeleng pelan. Kemudian ia melakukan gerakan tangan sebagai isyarat mempersilahkan Mama Jeno untuk masuk ke dalam ruangan yang berada di depan mereka.

Mama Jeno mendudukkan dirinya di sebuah bangku yang ada di samping ranjang Jeno. Wanita paruh baya itu meraih tangan di depannya dan membawanya ke dalam genggaman.

“Jeno.. Ayo bangun.. Ini Mama..”

Ia menatap wajah putra semata wayangnya yang sekarang terbaring lemah didepannya dengan sangat lekat. Tangan kanannya pun tergerak untuk mengusap pucuk kepala putranya dengan lembut.

“Anak Mama.. Udah dewasa ya sekarang..”

“Jeno.. Mama sayang sama kamu.. Sayang sekali..”, lagi-lagi air matanya menetes.

“Maafin Mama.. Mama belum bisa menjadi ibu yang baik buat kamu. Mama belum bisa menemani kamu bahkan di masa-masa sulit kamu. Tapi sekarang Mama ada disini, Jen. Biarin mama menebus semua kesalahan Mama selama ini ya?”

Nafasnya terasa sangat berat. Ia menahan agar tangisnya tidak pecah. Bagaimana bisa seorang ibu melihat putra satu-satunya terbaring tidak berdaya di depannya. Air matanya menetes membasahi pipinya. Kemudian ia kembali menenangkan dirinya sendiri dan menarik nafas panjang.

“Mama tau kamu anak tangguh, Jen. Tolong bertahan ya? Mama pengen bisa peluk kamu dalam keadaan sehat”

“Bangun ya, Jen? Mama, Papa, Jevan, Echan, Rendra, dan Tala nungguin kamu bangun. Kami sayang sama kamu”

Ia kembali mengusap pucuk kepala putranya. Kemudian ia bangkit dari duduknya dan bersiap untuk pergi dari sana. Namun tiba-tiba sebuah alat disana berbunyi sangat nyaring. Ia pun panik dan langsung bergegas keluar dari sana.

“DOKTER TOLONG”