Ruman Echan

Jeno dan Tala sudah berada di depan rumah Echan. Mereka pun memasuki halaman rumah tersebut. Rumah itu masih terlihat sama seperti yang terakhir kali Tala lihat. Halaman yang lumayan luas dengan berbagai tanaman yang menghiasi, serta bangunan rumah minimalis yang memberi kesan nyaman.

“Permisi, assalamualaikum”, ucap Jeno dan Tala sambil memasuki rumah Echan.

Terlihat Echan dengan sosok wanita yang akrab mereka panggil dengan sebutan Bunda itu berada di dapur.

“BUNDAAAA”, teriak Tala sambil berlari ke arah dapur.

Melihat Tala yang tiba-tiba ada di dekatnya, Bunda pun langsung memeluk Tala erat. Seakan-akan bertemu putri kandungnya.

“Eh anak cantik, udah gede ya sekarang. Tambah cantik aja nih”, ucap Bunda sambil mengusap kepala Tala.

“Kok baru kesini sekarang sih, kan pindah kesini udah lumayan lama”

“Echan ga ngajakin kesini sih Bun”, jawab Tala sambil melirik Echan.

“Kalo mau kesini mah langsung aja atuh, gausah nungguin Echan”, jawab Bunda dengan sedikit logat sundanya.

“Ehem-ehem, anak ganteng di anggurin nih Bun?”, sahut Jeno.

“Bunda mah bosen sampe bosen liat kamu Jen”, canda Bunda.

Jeno pun memasang eskpresi cemberut, seolah-olah ngambek karena perkataan Bunda. Echan dan Tala hanya menggeleng heran.

Tiba-tiba Jevan dan Rendra pun datang.

“Assalamualaikum Bunda cantik”, sapa Jevan.

“Waduh bau mie ayam nya mantep banget nih Bun”, ucap Rendra sambil mendengus.

“Yaudah sana kalian makan. Gausah rebutan, Bunda masak banyak”

Mereka pun menuju meja makan dan mengambil makanan untuk diri mereka masing-masing. Menikmati mie ayam buatan Bunda Echan yang enak itu sambil sesekali bercanda.

“Bunda keluar dulu ya, kalian jangan berantem”

“SIAP BUNDAA”


Setelah kenyang menyantap mie ayam dan membereskan meja makan, mereka pun pergi ke ruang tengah. Di salah satu dindingnya terlihat sebuah frame berisikan 4 orang anak kecil yang tersenyum sambil berpelukan tergantung manis.

“Time flies so fast”, gumam Tala sambil memandangi foto tersebut.

Keempat orang lainnya yang berada di sana pun menoleh, lalu mengikuti arah kemana pandangan Tala tertuju.

“Iya cepet banget ya ternyata. Perasaan kemarin Tala masih suka ngambek gara-gara diusilin Echan, eh sekarang..”, ucap Rendra terputus.

”..sekarang juga sama aja ngambekan, hahaha”

Jeno, Jevan, dan Echan pun tertawa terbahak-bahak. Sedangkan Tala hanya mendengus kesal.

“Tuh beneran ngambek”, ucap Jeno.

“Kalian juga dulu masih naik sepeda, sekarang udah gegayaan ikut geng motor. Gegayaan balapan sama berantem. Keren lo begitu?”, sinis Tala.

Keempatnya terdiam, terutama Jeno. Mengingat beberapa hari yang lalu ia babak belur karena berkelahi dengan seseorang.

“Kicep kan lo pada”

“Iya deh maaf, ga berantem lagi”, ucap Jeno.

“Tapi kalo kurang ajar, yakali ga dihajar”, sambungnya sambil terkekeh pelan.

Tala menghela napas. Memang susah menasihati teman-temanna, bebal.

“Iya La. Tapi kalo balapan yakali mau pelan-pelan. Ga bakalan menang dong?”, timpal Echan.

“Tau ah terserah. yang penting kalian ga macem-macem”

“Siap bos!!”, jawab keempatnya bersamaan.

Tiba-tiba sebuah notif pesan masuk ke handphone Tala.

“Siapa?”

Tala mengangkat kedua bahunya. “Gatau, nomer doang”

“Sini, biar kita aja”, ucap Rendra sambil merebut handphone di genggaman Tala.