“Selamat Hari Ayah, Papa Jeff...”
Aira meraih ponsel di nakasnya. Pandangannya tertuju pada layar ponselnya yang menunjukkan waktu dan tanggal hari ini. Aira menarik senyumnya tipis sambil beralih memandang ke arah sebuah foto yang berada di dalam bingkai cantik di atas nakasnya.
Memorinya kembali kepada kejadian satu tahun yang lalu, dimana ia dan Papa Jeff merayakan hari ayah bersama. Ia teringat bagaimana ia membuat kue menurut resep yang ia temukan di internet dan menghiasnya dengan ucapan hari ayah. Dan juga senyum manis Papa Jeff saat mengetahui putrinya yang menyiapkan kejutan untuknya.
Aira tersenyum pahit saat memori tersebut melintas di otaknya. Kalau boleh jujus, ia sangat ridu dengan Papa Jeff.
Ia beranjak dari tempat tidurnya, meletakkan kembali ponselnya dan beralih meraih sebuah ikat rambut berwarna merah muda untuk mengikat rambutnya. Kemudian ia pergi untuk membersihkan tubuhnya dan bersiap-siap untuk pergi merayakan hari ini.
Aira mematikan mesin mobilnya dan turun dari sana. Ia menjatuhkan langkah demi langkahnya sambil membawa dua buket bunga mawar merah besar di kedua tangannya, berjalan mendekati makam kedua orang tuanya.
Aira berdiri di antara kedua makam yang bertuliskan Kyra dan Jeffryan itu. Ia memandangnya dengan bergantian sebelum ia menekuk lutunya dan duduk bersimpuh di sana. Bunga yang semula berada di genggamannya ia pindahkan satu-persatu ke atas makam orang tuanya. Menatanya dengan rapi hingga terlihat sangat cantik.
Aira menundukkan kepalanya sejenak. Mulutnya merapalkan doa untuk mereka, berharap mereka berdua bahagia di sana. Sembari tangan kanannya mengusap batu nisannya satu-persatu.
“Halo, Ma, Pa. Ini Aira.” monolog Aira.
Aira memutar posisinya, menghadap ke arah makam mamanya.
“Halo, Mama Kyra. Mama apa kabar? Udah nggak sepi lagi kan di sana? Kan udah ada Papa Jeff.” Ucap Aira dengan senyum tipisnya.
“Ma, Aira titip Papa, ya? Mama sama papa harus seneng-seneng di sana, oke?”
Kemudian Aira membalik tubuhnya yang semula menghadap ke makam mama Kyra menjadi menghadap ke makam Papa Jeff.
“Halo, Papa Jeff.. Ini Aira..” Sapanya dengan suara yang sedikit bergetar.
Aira mengangkat kepalanya untuk menahan air matanya. Ia menatap langit di atas sana yang sedang mendung, yang mungkin saja sebentar lagi meneteskan air hujan seperti matanya yang ingin meneteskan tangis.
“Pa, kalau boleh jujur.. Aira masih nggak percaya kalau papa bakal pergi nyusul mama secepat ini. Tapi papa tenang aja, Aira udah ikhlas kok. Papa yang tenang ya sama mama di sana.”
“Papa, makasih banyak, ya? Makasih banyak udah jadi papa yang sangat baik buat Aira. Aira tau kalau jadi orang tua tunggal seperti papa itu nggak mudah. Aira juga tau kalau kadang papa nangis di dalem kamar sambil peluk foto mama.”
“Tapi papa harus tau, kalau papa udah jadi sosok ayah yang sangat hebat buat Aira.”
Aira mulai meneteskan air matanya. Di saat yang bersamaan, hujan turun meneteskan airnya di permukaan tanah. Seolah langit turut menangis bersama Aira.
Air hujan yang turun semakin berdatangan. Aira bersiap untuk beranjak dari sana sebelum tubuhnya menjadi semakin basah lagi. Namun sebelum beranjak, ia menempelkan telapak tangannya di atas gundukan tanah di depannya. Mengusapnya dengan lembut sambil mengucapkan beberapa patah kata.
“Selamat hari ayah, Papa Jeff.”