Selamat tujuh belas tahun
Seperti biasanya, suasana rumah sangat sepi. Mungkin hanya sesekali ada suara dari ponsel Aira atau ocehan asal Aira. Tidak ada suara yang lain, karena ia hanya sendirian di rumah ini.
Aira bangun dari tidurnya. Matanya mengarah kepada jam dinding di atas sana. Waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam. Namun sepertinya Papa Jeffrey belum pulang juga.
Aira beranjak meraih earphone di atas nakas dan memasangnya di kedua telinganya. Ia memutar salah satu playlist favoritnya dan kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Tok, tok, tok. Seseorang mengetuk pintu kamar Aira, namun ia tidak mendengarnya.
Tok, tok, tok, tok. Kali ini lebih keras. Aira menoleh ke arah pintu dan menarik earphone yang sedari tadi terpasang di telinganya.
“Papa, Ya?”
Aira beranjak dari tempatnya dan berjalan ke arah pintu. Tangan kirinya meraih kenop pintu dan membukanya dengan perlahan.
Di depan sana terlihat sosok Papa Jeffrey yang masih berbalut dengan pakaian kantornya berdiri dengan senyum yang mengembang. Tak lupa, kedua tangannya memegang sebuah kue yang dihiasi beberapa lilin cantik yang menyala.
“Selamat tujuh belas tahun, anak kesayangan Papa!”