Shock
“Ini... Beneran...??”, lirih Mark.
“Nggak, ini nggak mungkin”, ucap Jisung.
“Anjing ah, ini prank kan? Apa apaan lagi Mas Doy ngechat maaf gini. Ga lucu sumpah”, ucap Haechan frustasi.
Sebagian dari mereka masih terdiam. Mencerna apa yang sedang terjadi sekarang. Semuanya terasa seperti tidak nyata. Apakah ini mimpi? Kalau ini mimpi, maka ini adalah mimpi buruk untuk mereka semua.
Kekhawatiran tampak di wajah mereka. Mereka bingung, 'Apa yang harus mereka lakukan? Apa yang akan terjadi selanjutnya? Dan bagaimana kehidupan mereka setelah ini?', pertanyaan-pertanyaan itu mulai memenuhi otak mereka.
Hingga tiba-tiba Caca yang sedari tadi diam di tempatnya beranjak dari duduknya. Ia meraih kunci motor vespa milik Hendery dan berlari meninggalkan mereka.
“Ca, mau kemana?”, tanya Renjun dengan sedikit berteriak.
Namun, Caca tidak menggubris sama sekali. Ia tetap melanjutkan langkahnya dan pergi mengendarai sebuah motor yang terparkir di halaman depan rumah mereka.
“Mas..”, ucap Chenle yang membuat yang lainnya menoleh.
“Caca belum pinter bawa motor”