The Difference
Mobil yang dikendarai Aira dan Jeffrey memasuki halaman rumah kediaman orang tua Kyra—mama dari Aira. Halaman yang sangat luas itu telah diisi beberapa mobil lain milik kerabat mereka.
Malam ini, memang mereka mengadakan makan malam bersama. Hanya makan malam keluarga biasa yang dihadiri oleh seluruh anggota keluarga.
Mereka memasuki rumah itu melalui pintu depan dan langsung menuju ruang tengah keluarga. Jeffrey melihat kakak dan adik iparnya berkumpul di taman samping rumah yang terhubung langsung dengan ruang tengah.
“Jeffrey, Aira!” Sapa Satriyo—ayah dari Saka.
Jeffrey pun menggandeng Aira, mengajaknya mendekat ke arah orang yang memanggil mereka.
“Halo, Mas. Apa Kabar?” Tanya Jeffrey kepada Satriyo dan yang lainnya sambil menjabat tangan mereka. Disusul oleh Aira yang turut menjabat tangan mereka.
“Baik, Jeff. Kamu sama Aira juga baik kan?”
“Aira makin gede makin cantik aja nih. Mirip banget sama Kyra.” Timpal istri Satriyo.
“Hahahaha. Kan Aira juga anaknya Kyra, Mbak.”
Aira yang ada di sana hanya tersenyum, tidak menanggapi apa-apa. Sama seperti Sera—mama dari Jeje, yang sedari tadi diam di sana.
“Mama di mana, Mas, Mbak?” Tanya Jeffrey.
“Mama masih di atas, Jeff. Paling sebentar lagi turun,” Jawab Satriyo. “Aira ke dalem aja. Saka sama Jeje ada di sana kok.”
“Iya, Om,” Jawab Aira. “Pa, Aira ke dalem ya?” Pamit Aira kepada Jeffrey yang dibalas dengan anggukan.
“Duduk sini, Ra!” Ajak Saka yang kini telah duduk di sofa ruang tengah.
“Jeje mana?”
“Ke atas, nyamperin Oma. Biasa lah cari muka.” Jawab Saka.
“Ih, gaboleh gitu ngomongnya,” Aira mencubit pelan lengan Saka. “Ntar kalo ada yang denger bisa kena masalah nih kita, hahaha.” Bisik Aira sambil terkekeh pelan.
Saka pun ikut tertawa bersama Aira.
“Ih, seru banget kayanya ketawa-ketawa. Mana ga ngajak Jeje lagi.” Kesal Jeje yang tiba-tiba datang mendekati mereka entah dari mana.
“Eh, sini gabung, Je.” Ajak Aira.
Tiba-tiba seorang wanita yang akrab mereka sebut sebagai oma pun menghampiri mereka. “Aduh, cucu-cucu Oma.”
Ketiganya pun berdiri menyambut kedatangan oma. Mereka satu persatu mencium tangannya. Oma pun memeluk cucunya satu persatu. Namun, tidak dengan Aira. Bahkan, saat Aira hendak mencium tangannya, ia segera menarik tangannya kembali.
“Cantik dan ganteng sekali. Sini foto bareng sama Oma,” Ajaknya. “Aira, tolong ambil fotonya ya.”
Aira hanya mengangguk dan tersenyum kikuk. Tangannya meraih handphone oma.
“Harusnya Aira ikut foto dong. Saka minta tolong papa buat fotoin aja ya?” Ucap Saka sambil hendak berjalan menuju Satriyo yang ditahan oleh oma-nya.
“Nggak usah. Mereka pasti lagi bahas kerjaan. Lagian kan ada Aira.” Jawab Oma.
“Iya,” Jawab Aira. “Udah, kamu berdiri di samping Oma aja.”
“Satu.. Dua.. Tiga..”
Oma tersenyum menatap kamera sambil memeluk seluruh cucunya. Ralat, hanya kedua cucunya. Jeje tersenyum cerah sambil memeluk Oma. Bagaimana tidak bahagia jika dia menjadi cucu kesayangan Oma.
Saka menatap Aira merasa tidak enak. Namun dibalas senyuman oleh Aira yang menandakan ia tidak apa-apa. Bagi Aira, sudah biasa jika ia mendapat perlakuan yang berbeda dari Oma dibandingkan para sepupunya.