jejesmiley

Semua orang yang berada di dalam aula itu berdiri dan bertepuk tangan dengan antusias. Terukir senyuman bangga dan bahagia dari seluruh guru dan perwakilan siswa SMA Neo melihat perwakilan dari sekolah mereka berhasil menduduki peringkat pertama.

Medali telah dikalungkan di leher pemenang, piala pun sudah berada dalam genggaman mereka. Kini mereka berjalan menghampiri rombongan sekolah mereka dengan penuh rasa bahagia.

Januar dan Dewa tersenyum melihat anak mereka. Terlihat rasa bangga di sana. Meskipun Dewa masih sedikit menyembunyikannya.

“Ayah bangga sama kamu.” Ucap Januar kepada Athaya. Ia pun menarik putrinya ke dalam pelukan.

Sedangakan Dewa berjalan menghampiri Raja. Ia juga membawa Raja ke dalam pelukan dan menepuk punggungnya pelan.

“Maafin Papa. Papa bangga sama kamu.”

Acara telah usai. Mereka bersiap untuk kembali ke sekolah mereka. Semuanya berjalan menuju bus yang mereka tumpangi.

“Athaya, berhenti dulu.” Ucap Raja menghentikan langkah Athaya.

“Kenapa? Nanti yang lain nungguin.”

Raja mendekatkan dirinya dengan Athaya. “Udah selesai olim, dan menang juga nih.” Bisik Raja di dekat telinga Athaya.

Athaya menjauhkan badannya dari Raja. “Ya terus kenapa?”

“Ayo pacaran.”

Athaya tak menggubris perkataan Raja. Ia melanjutkan langkahnya ke arah bus mereka. Ia berjalan sambil menundukkan kepala untuk menyembunyikan semu merah di pipinya.

“Tunggu gue. Jawab dulu dong.” Raja berlari mendekati Athaya dan mencoba menyesuaikan langkah mereka.

“Gimana? Katanya lo sayang sama gue more than friend ?”

“Lo diem apa mau gue pukul?”

Raja tertawa. Senyumnya mengembang karena melihat betapa gemas gadis di depannya itu.

“Gamau dipukul, maunya disayang.” Ucap Raja sambil menghadang jalan Athaya.

“Woi! Ayo buruan!” Teriak Jenar dari pintu bus.

“Ayo jawab, keburu ditunggu yang lain tuh.” Raja menunjuk Jenar yang masih menunggu mereka di depan pintu bus.

“Yaudah iya.” Jawab Athaya.

“Iya apa? Yang jelas dong.”

“Iya, gue mau jadi pacar lo. Udah sana minggir.” Athaya berjalan meninggalkan Raja dan masuk ke dalam bus terlebih dahulu.

“Gimana? Berhasil?” Tanya Jenar setelah Raja sampai di depan pintu bus.

“Berhasil, Jen. Official.

Matahari siang ini cukup terik. Namun mereka tak khawatir karena mereka terlindungi oleh pohon pohon rindang di atas mereka. Angin pun berhembus membelai kulit mereka dan sesekali membawa rambut panjang Athaya berterbangan.

Mereka duduk di bawah pohon yang rindang, menghadap ke arah hamparan alam yang terlihat bak lukisan indah di depan mereka. Mereka berada di wilayah yang bisa dibilang cukup tinggi. Jadi mereka bisa melihat pemandangan cantik dari tempat mereka.

Raja berdiri, ia menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia memejamkan matanya dan merentangkan kedua tangannya. Menikmati tubuhnya yang kini diterpa angin yang datang.

Athaya sedari tadi hanya duduk memperhatikan apa yang dilakukan pria yang bersamanya itu. Belum ada obrolan di antara keduanya hingga Athaya membuka suara.

“Mending lo teriak sekalian, biar lega.” Ucapnya.

Raja menoleh sebentar ke arah Athaya. Kemudian ia kembali melanjutkan kegiatannya.

“AAAAAAAAAA!” Teriak Raja lantang. Kemudian ia kembali duduk di sebelah Athaya.

“Gitu?” Tanya Raja.

Athaya tersenyum dan mengangguk. Tanpa sadar tangan kanannya tergerak untuk merapikan rambut Raja yang sedikit berantakan karena angin

Tubuh Raja membeku sejenak. Pipinya memanas, mungkin sebentar lagi akan bersemu merah. Ia memalingkan wajahnya ke sisi lain yang tidak dapat dilihat oleh Athaya. Malu, katanya.

Athaya menarik tangannya dengan canggung. Sial, gue barusan ngapain, batinnya. Kemudian terjadi keheningan selama beberapa menit di antara mereka.

“Papa selalu maksa gue buat belajar bisnis.” Ucap Raja secara tiba-tiba yang membuat Athaya menoleh ke arahnya.

Athaya membenarkan posisi duduknya. Kini ia duduk menghadap ke arah Raja. Kemudian ia mengangguk, memberi isyarat bahwa ia siap mendengarkan segala keluh kesahnya.

“Gue punya kakak, namanya Mas Wisnu. Dulu, rencananya Mas Wisnu yang bakal nerusin bisnis Papa. Tapi, tahun lalu Mas Wisnu meninggal.”

“Mama ga bisa nerima kalo Mas Wisnu udah ga ada. Dan ya, you know what happened. Mama jadi kaya sekarang.”

She really loves him, sampai Mama cuma inget Mas Wisnu anaknya. Bahkan dia selalu nganggep gue sebagai Mas Wisnu”

“Dan Papa. Setelah Mas Wisnu ga ada, Papa selalu maksa gue belajar bisnis. Padahal semua juga tau kalo gue ga minat sama sekali di dunia perbisnisan.”

“Bahkan Papa ga pernah nanya apa yang mau gue lakuin. Dulu, di mata mereka berdua cuma Mas Wisnu. Gue kayak cuma cadangan doang ketika Mas Wisnu udah ga ada.”

“Tapi gue sayang sama Mas Wisnu. Sayang Banget. Bahkan kalo bisa gue mau tuker, biar gue aja yang gantiin Mas Wisnu men—”

Raja belum sempat menyelesaikan ucapannya. Namun Athaya sudah menariknya ke dalam pelukannya.

“Don't you dare to say that.” Peringat Athaya.

Raja membalas pelukan itu dan semakin mengeratkannya. Athaya pun mengusap punggung Raja untuk memberi ketenangan.

“Ga ada yang sayang sama gue, Ya.” Ucap Raja.

“Gue,”

“Gue sayang sama lo.”

Seperti biasanya, suasana rumah sangat sepi. Mungkin hanya sesekali ada suara dari ponsel Aira atau ocehan asal Aira. Tidak ada suara yang lain, karena ia hanya sendirian di rumah ini.

Aira bangun dari tidurnya. Matanya mengarah kepada jam dinding di atas sana. Waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam. Namun sepertinya Papa Jeffrey belum pulang juga.

Aira beranjak meraih earphone di atas nakas dan memasangnya di kedua telinganya. Ia memutar salah satu playlist favoritnya dan kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.

Tok, tok, tok. Seseorang mengetuk pintu kamar Aira, namun ia tidak mendengarnya.

Tok, tok, tok, tok. Kali ini lebih keras. Aira menoleh ke arah pintu dan menarik earphone yang sedari tadi terpasang di telinganya.

“Papa, Ya?”

Aira beranjak dari tempatnya dan berjalan ke arah pintu. Tangan kirinya meraih kenop pintu dan membukanya dengan perlahan.

Di depan sana terlihat sosok Papa Jeffrey yang masih berbalut dengan pakaian kantornya berdiri dengan senyum yang mengembang. Tak lupa, kedua tangannya memegang sebuah kue yang dihiasi beberapa lilin cantik yang menyala.

“Selamat tujuh belas tahun, anak kesayangan Papa!”

Athaya kini berdiri di depan pintu ruangan di mana ayahnya berada. Ia berhenti sejenak, menetralkan detak jantungnya yang berdegup kencang. Mengurangi rasa gugupnya sebelum bertemu kembali dengan sang ayah.

Raja menepuk pundak Athaya. Memberi kode meminta gadis di sampingnya itu untuk masuk ke dalam sana.

“Gue tunggu di sini aja, ya?” tanya Raja.

Athaya mengangguk. Tangan kanannya meraih gagang pintu dan membukanya, membuat orang di dalam sana menoleh dan mengembangkan senyumnya.

“Athaya, sini!” panggilnya.

Athaya pun melangkahkan kakinya untukmasuk, berjalan mendekat ke arah Januaryang kini terbaring di ranjang pasien. Mendudukkan dirinya di atas bangku yang terletak tepat di samping ranjang pasien.

“Kamu apa kabar?” tanya Januar sambil memandang ke arah Athaya.

“Baik.” Jawabnya singkat.

“Sekolah kamu lancar, kan? Ayah dengar dari Jiel sama Abang, katanya kamu mau ikut olimpiade sains juga, ya? Hebat sekali kamu!” Puji Januar sambil mengusap kepala Athaya.

Athaya yang sedari tadi belum berani menatap mata ayahnya, kini mencoba untuk memberanikan diri. Ia menatap Januar dengan mata yang berkaca-kaca. Kedua tangannya meraih tangan Januar dan mengusapnya halus.

“Ayah.. Maafin Athaya..” lirihnya pelan.

“Athaya udah tau semuanya. Maaf selama ini Athaya egois.”

Air matanya menetes. Ia benar-benar merasa bersalah kepada Januar. Dalam hati ia merutuki dirinya sendiri atas sifat egoisnya selama ini.

Januar meraih tubuh Athaya dan membawanya ke dalam pelukan. Diusapnya punggung putrinya itu.

“Ayah sudah memaafkan kamu. Terima kasih juga sudah mau bertemu Ayah lagi.”

Athaya semakin mengeratkan pelukannya. Sudah lama sekali sejak terakhir kali ia merasakan pelukan ayahnya. Rasanya sangat hangat, dan ia sangat merindukannya.

“Ayah.. Athaya kangen..”

Tangisnya pecah. Athaya terisak di dalam pelukan ayahnya. Setelah tangisnya cukup reda, ia melepaskan pelukannya dan kembali duduk di bangku yang tersedia di sana. Tangannya kembali meraih tangan Januar dan menggenggamnya.

“Ayah, cepet sembuh, ya? Athaya pengen nanti Ayah ada waktu Athaya olimpiade.”

Januar tersenyum, “Iya sayang. Ayah pasti ada di sana nanti. Sebentar lagi Ayah pasti sembuh.”

Kini mereka semua telah menyelesaikan makan malam mereka dan berkumpul di ruang tengah untuk menghabiskan waktu bersama.

“Oma denger Jeje dapet peringkat satu paralel lagi ya?” Tanya Oma.

“Iya, Ma. Jeje dapet peringkat satu lagi.” Jawab Mama Jeje sambil mengusap pucuk kepala anaknya. Jeje pun tersenyum bangga mendengar itu semua.

“Nilai Saka juga naik kan semester ini? Keren banget cucu-cucu oma”

“Iya, Oma.” Jawab Saka singkat.

Kini Oma pun melirik Aira dan Jeffrey.

“Aira, kamu harusnya jangan mau kalah sama Jeje. Jeje lebih muda dari kamu, masa kamu nggak bisa dapet peringkat di atas Jeje sih,” Omelnya.

“Kamu juga, Jeff. Jangan terlalu dimanjain anaknya. Jadi kaya gitu kan, males-malesan gamau belajar. Jadi ya peringkatnya gitu-gitu aja. Nggak ada peningkatan.” Sambungnya.

“Aira udah rajin belajar kok, Ma. Saya juga nggak manjain Aira. Nilai Aira juga meningkat dibandingkan semester sebelumnya.” Jawab Jeffrey sambil memeluk Aira dan mengusap punggungnya.

“Belain aja terus.”

Yang lain hanya terdiam menanggapi omelan Oma. Bukan hal yang asing bagi mereka jika Oma memperlakukan Aira seperti itu.

“Kak Aira, ikut aku yuk ke dapur sebentar.” Ajak Jeje.

Aira pun berjalan mengikuti Jeje dari belakang, meninggalkan anggota keluarga yang lainnya. Saka pun ikut menyusul tanpa disadari oleh mereka berdua.


Jeje dan Aira kini berasa di dapur. Sedangkan Saka berada tak jauh dari mereka berdua. Aira duduk sambil menunggu Jeje yang sedang membuat cokelat panas untuk dirinya sendiri.

“Dress kamu lucu.” Ucap Jeje.

“Makasih. Ini dulu punya mama aku.”

Jeje mengangguk dan melanjutkan kegiatannya membuat cokelat panas.

“Kamu gamau?” Tanya Jeje.

Aira menggeleng. “Ini coklat kesukaan aku, Ra. Oma yang beliin. Ini enak banget loh.” Ucap Jeje.

“Iya minum aja, Je.”

“Aku bawa ke depan aja deh.” Ucap Jeje.

Kemudian Aira pun berdiri dari duduknya. Namun tiba-tiba Jeje menabraknya. Entah dengan sengaja atau tidak disengaja.

“ADUH!” Teriak Jeje kencang.

Coklat panas yang semula berada di tangan Jeje kini sudah tumpah mengotori bagian bawah dress yang dikenakan Aira dan sedikit mengenai tangan Jeje.

Saka yang melihatnya pun langsung menghampiri mereka. “Apaan sih, Je. Pelan-pelan dong. Ini kena dress Aira semua.” Ucap Saka dengan nada sedikit tinggi.

“Lo gapapa, Ra? Kena badan ga? Panas ya?” Khawatir Saka.

“Panas dikit doang, Sak. Gapapa kok. Tapi ini dress mama gue jadi kotor.” Jawab Aira.

“Kak, tangan aku panas!” Teriak Jeje sambil menangis. Membuat Oma datang menghampiri mereka bertiga.

“Ada apa ini?” Tanya Oma.

“Oma..” Jeje menghampirinya sambil menangis. “Tangan Jeje panas, ketumpahan cokelat panas.”

Oma pun menatap tajam ke arah Aira. “Ini pasti ulah kamu ya! Kamu bisa nggak sih nggak usah bikin masalah?”

Aira terkejut mendapat bentakan dari Oma secara tiba-tiba. Ia hanya bisa diam dan meringis merasakan panas dari area pahanya yang terkena tumpahan cokelat panas.

“Oma! Ini bukan salah Aira, Jeje yang nabrak Aira! Bahkan Aira kena lebih banyak.” Bela Saka.

“Kamu kebanyakan main sama Aira jadi berani ngelawan Oma gini ya!”

“Kamu harusnya tahu diri, Aira. Kamu bukan siapa-siapa disini. Kamu cuma pembawa sial bagi keluarga,” Bentak Oma.

“Nggak puas kamu bikin anak saya meninggal dunia karena melahirkan anak nggak berguna kaya kamu? Sekarang kamu mau nyakitin cucu saya juga?”

“Oma, cukup!” Ucap Saka.

Aira hanya bisa menunduk. Kini bahunya mulai bergetar, ia tak mampu menahan tangisnya lagi. Bentakan dari oma benar-benar menyakiti hatinya. Ia tidak menyangka bahwa Oma akan sebenci ini dengan dirinya.

“Gausah cengeng kamu. Anak manja! Pembawa sial!”

“Ma! Cukup!” Teriak Jeffrey yang baru saja datang.

“Jangan pernah mengatakan hal itu lagi kepada anak saya. Kematian Kyra bukan salah Aira. Mama boleh menyalahkan Jeffrey. Jangan menyalahkan Aira, Ma. Bahkan Aira tidak tahu apa-apa.”

Jeffrey menghampiri Aira dan membawanya ke dalam pelukannya. Aira kini terisak di dalam pelukan Jeffrey.

“Papa.. Maafin Aira.. Semua salah Aira.. Mama meninggal karena Aira.. Aira pembawa sial, Pa..” Aira semakin terisak di dalam pelukan Jeffrey.

“Enggak, Aira nggak boleh ngomong gitu. Ini bukan salah Aira. Papa sayang sama Aira,”

“Papa disini, jangan takut.” Bisiknya sambil mengusap rambut putri semata wayangnya.

Keadaan rumah mulai tidak terkendali. Jeje masih menangis dengan alasan tangannya yang terkena tumpahan cokelat dan oma masih dengan emosinya. Sedangkan yang lain tidak berani untuk membuka suara.

Jeffrey pun menuntun Aira untuk berdiri. “Kami pamit. Mungkin kami tidak akan kembali kesini lagi. Sudah cukup saya melihat anak saya diperlakukan secara tidak baik oleh keluarganya sendiri. Saya permisi.”


Mereka pun pergi meninggalkan rumah itu. Hingga kini, Jeffrey masih menggenggam tangan putrinya. Dan sesekali mengusapnya untuk menenangkan.

“Sstt.. Udah ya nangisnya? Ada yang sakit? Panas ya?”

Aira menggeleng. Tangan kirinya mengusap air mata yang ada di wajahnya.

“Dress mama kotor, Pa..” Aira kembali terisak.

“It's okay, nanti kita bersihin ya. Udahan nangisnya. Papa sedih kalau lihat Aira nangis gini.” Ucap Jeffrey sambil mengusap air mata putrinya.

“Aira dengerin papa ya? Apa yang dibilang sama Oma tadi nggak bener. Semua bukan salah Aira,”

“Jangan sedih lagi ya? Papa sayang banget sama Aira”

Mobil yang dikendarai Aira dan Jeffrey memasuki halaman rumah kediaman orang tua Kyra—mama dari Aira. Halaman yang sangat luas itu telah diisi beberapa mobil lain milik kerabat mereka.

Malam ini, memang mereka mengadakan makan malam bersama. Hanya makan malam keluarga biasa yang dihadiri oleh seluruh anggota keluarga.

Mereka memasuki rumah itu melalui pintu depan dan langsung menuju ruang tengah keluarga. Jeffrey melihat kakak dan adik iparnya berkumpul di taman samping rumah yang terhubung langsung dengan ruang tengah.

“Jeffrey, Aira!” Sapa Satriyo—ayah dari Saka.

Jeffrey pun menggandeng Aira, mengajaknya mendekat ke arah orang yang memanggil mereka.

“Halo, Mas. Apa Kabar?” Tanya Jeffrey kepada Satriyo dan yang lainnya sambil menjabat tangan mereka. Disusul oleh Aira yang turut menjabat tangan mereka.

“Baik, Jeff. Kamu sama Aira juga baik kan?”

“Aira makin gede makin cantik aja nih. Mirip banget sama Kyra.” Timpal istri Satriyo.

“Hahahaha. Kan Aira juga anaknya Kyra, Mbak.”

Aira yang ada di sana hanya tersenyum, tidak menanggapi apa-apa. Sama seperti Sera—mama dari Jeje, yang sedari tadi diam di sana.

“Mama di mana, Mas, Mbak?” Tanya Jeffrey.

“Mama masih di atas, Jeff. Paling sebentar lagi turun,” Jawab Satriyo. “Aira ke dalem aja. Saka sama Jeje ada di sana kok.”

“Iya, Om,” Jawab Aira. “Pa, Aira ke dalem ya?” Pamit Aira kepada Jeffrey yang dibalas dengan anggukan.


“Duduk sini, Ra!” Ajak Saka yang kini telah duduk di sofa ruang tengah.

“Jeje mana?”

“Ke atas, nyamperin Oma. Biasa lah cari muka.” Jawab Saka.

“Ih, gaboleh gitu ngomongnya,” Aira mencubit pelan lengan Saka. “Ntar kalo ada yang denger bisa kena masalah nih kita, hahaha.” Bisik Aira sambil terkekeh pelan.

Saka pun ikut tertawa bersama Aira.

“Ih, seru banget kayanya ketawa-ketawa. Mana ga ngajak Jeje lagi.” Kesal Jeje yang tiba-tiba datang mendekati mereka entah dari mana.

“Eh, sini gabung, Je.” Ajak Aira.

Tiba-tiba seorang wanita yang akrab mereka sebut sebagai oma pun menghampiri mereka. “Aduh, cucu-cucu Oma.”

Ketiganya pun berdiri menyambut kedatangan oma. Mereka satu persatu mencium tangannya. Oma pun memeluk cucunya satu persatu. Namun, tidak dengan Aira. Bahkan, saat Aira hendak mencium tangannya, ia segera menarik tangannya kembali.

“Cantik dan ganteng sekali. Sini foto bareng sama Oma,” Ajaknya. “Aira, tolong ambil fotonya ya.”

Aira hanya mengangguk dan tersenyum kikuk. Tangannya meraih handphone oma.

“Harusnya Aira ikut foto dong. Saka minta tolong papa buat fotoin aja ya?” Ucap Saka sambil hendak berjalan menuju Satriyo yang ditahan oleh oma-nya.

“Nggak usah. Mereka pasti lagi bahas kerjaan. Lagian kan ada Aira.” Jawab Oma.

“Iya,” Jawab Aira. “Udah, kamu berdiri di samping Oma aja.”

“Satu.. Dua.. Tiga..”

Oma tersenyum menatap kamera sambil memeluk seluruh cucunya. Ralat, hanya kedua cucunya. Jeje tersenyum cerah sambil memeluk Oma. Bagaimana tidak bahagia jika dia menjadi cucu kesayangan Oma.

Saka menatap Aira merasa tidak enak. Namun dibalas senyuman oleh Aira yang menandakan ia tidak apa-apa. Bagi Aira, sudah biasa jika ia mendapat perlakuan yang berbeda dari Oma dibandingkan para sepupunya.

Kini mobil yang mereka kendaraan telah menepi di sebuah halaman kosong yang terletak tidak jauh dari pemakaman. Raja keluar terlebih dahulu, kemudian ia beralih ke sisi mobil yang lain dan membuka pintu untuk Athaya.

Athaya meraih bunga yang terletak di bangku belakang, memegangnya dengan tangan kanan dan memandangnya sejenak. “Cantik,” Batinnya. Sedangkan tangan kirinya memegang ponsel yang menampilkan sebuah notifikasi dari Mahesa.

Kemudian pandangannya beralih ke Raja yang berdiri di luar mobil sambil menatapnya dengan senyum manis miliknya. “Bang Mahes nyusul kesini.” Ucap Athaya sambil keluar dari mobil.

“Yaudah. Kita kesana duluan aja.”

Mereka melangkahkan kaki bersama. Keduanya berjalan beriringan menuju tempat peristirahatan terakhir ibunda dari Athaya.

Jarak mereka dengan makam bunda hanya tersisa sekitar 10 meter saja. Namun, secara tiba-tiba Athaya menghentikan langkahnya.

“Kenapa?” Tanya Raja sambil menoleh ke arah Athaya. Kemudian ia mengalihkan pandangannya menuju arah pandangan Athaya sekarang. Di depan sana, terdapat dua orang laki-laki duduk di samping nisan ibunda Athaya.

Athaya masih terdiam. Matanya tertuju pada dua orang yang berada di depan sana.

“Aya? Kok masih disini?” Panggil Mahesa yang tiba-tiba datang menghampiri mereka.

Suara Mahesa pun membuat kedua orang di depan sana turut menoleh. Ya, mereka adalah Hazriel dan Ayahnya.

Januar— ayah dari mereka, mencoba untuk berdiri dengan sedikit bantuan dari Hazriel yang ada di sampingnya. “Athaya!” Panggilnya.

Tubuh Athaya membeku. Tangan kanannya menjatuhkan bunga tulip berwarna merah muda yang sedari tadi berada di genggamannya. Kemudian ia berlari keluar dari area pemakaman.

“Athaya!” Panggil Raja yang masih mencerna apa yang sedang terjadi saat ini.

“Athaya biar sama gue. Lo boleh pulang atau temenin Jiel sama ayah.” Ucap Mahesa. Kemudian ia pun berlari mengejar Athaya.

Raja keluar dari garasi mobil rumahnya dan berjalan menuju ruang depan. Tangan kanannya memegang kenop pintu lalu membukanya.

Di sana, terlihat Dewa— Papa dari Raja duduk di atas sofa sambil menatap datar ke arahnya.

“Kemana aja baru pulang?” Tanya Dewa.

“Raja udah bilang kalo ada bimbingan buat olimpiade.”

“Sampai selarut ini?”

“Ya”

Suasana di antara mereka sangat canggung, tidak seperti ayah dan anak biasanya. Memang, keluarga mereka sudah seperti ini sejak beberapa tahun yang lalu.

“Kalau gaada yang mau diomongin, Raja ke kamar.” Ucap Raja sambil melangkahkan kakinya.

“Kamu kapan mau mulai belajar bisnis?” Tanya Dewa yang berhasil membuat Raja menghentikan langkahnya.

“Raja udah bilang kan, Pa? Raja ga tertarik sama dunia bisnis.”

“Papa izinin kamu masuk jurusan IPA dan ikut olimpiade bukan berarti Papa setuju sama cita-cita kamu.” Tegas Dewa.

“Pa, aku gamau berantem.” Jawab Raja pelan. Ia kini berdiri menghadap ke arah Dewa dengan tas ransel yang masih ada di bahunya.

“Papa cuma mau kamu nerusin bisnis Papa!” Dewa mulai berdiri dari tempatnya dan menatap tajam ke arah Raja.

“Kalau masih ada Wisnu, Papa ga akan maksa kamu kaya gini. Emangnya kamu bisa bikin Wisnu balik?” Ucap Dewa dengan nada semakin meninggi.

“Pa, Raja capek. Raja ga mau kelepasan bentak Papa. Kita stop kalo Papa mau ngungkit masalah Mas Wisnu lagi”

“Raja ke kamar.” Final Raja. Ia pun berjalan menuju kamarnya tanpa menghiraukan Dewa yang masih berada di tempatnya.

Seperti biasa, tidak ada obrolan di antara keduanya. Raja yang sibuk mengendarai mobilnya yang melaju di jalanan kota. Dan Athaya yang memandang keluar jendela sembari bersenandung pelan mengikuti nada dari musik yang mengalun di dalam mobil Raja.

Setelah beberapa lama, mobil yang ditumpangi oleh mereka memasuki halaman luas sebuah bangunan putih yang berdiri tinggi dan kokoh. Di depan sana terpampang jelas tulisan “Rumah Sakit Jiwa Nusa Pelita”

Athaya mengerutkan dahinya dan menengok ke arah Raja. Matanya memberi sinyal, seolah dia bertanya, “Di sini tempatnya?”

Meskipun pertanyaan tersebut tidak diucapkan melalui kata, namun Raja mengerti apa maksud Athaya. Ia pun membalasnya dengan sebuah anggukan.

“Ayo”, ucap Raja.


Mereka telah melewati lorong demi lorong, hingga kini mereka sampai di depan sebuah ruangan dengan pintu berwarna putih. Di sana terdapat sebuah nama yang bertuliskan 'Amanda Kania'.

Raja membuka pintu dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya digunakan untuk membawa sebuket bunga mawar putih favorit mamanya. Kemudian ia berjalan masuk, dan diikuti oleh Athaya.

“Eh, Mas Raja. Ibu lagi duduk di balkon, Mas langsung kesana aja”, ucap Suster Nina.

“Iya, Sus. Makasih ya”

Raja melangkahkan kakinya mendekati seorang wanita paruh baya yang sedang duduk menghadap ke luar. Ia menekuk lututnya di samping wanita itu, dan merangkul pundaknya.

“Mama”, sapanya.

Wanita itu menoleh, “Eh, anak mama”, kemudian ia memeluk tubuh Raja.

“Loh, ini anak cantik siapa?”, tanya Amanda setelah menyadari keberadaan Athaya yang sedari tadi berdiri di belakang Raja.

“Saya Athaya, Tante”, jawabnya sambil menundukkan kepala.

“Dia temen aku, Ma”

“Cantik sekali, seperti bunga mawar putih yang dibawa Wisnu”, ucap Amanda sambil mengusap punggung Raja.

Athaya tersenyum kikuk. Dalam hati ia bertanya-tanya, Wisnu siapa? Seingatnya tidak ada nama Wisnu di dalam nama panjang Raja.

Raja hanya tersenyum getir menanggapinya. Kemudian mereka menghabiskan waktu bersama Amanda disana.

Buat yang masih belum paham sama ceritanya, jadi:

Semua yang terjadi dari awal cerita sampai Caca kecelakaan itu cuma mimpi Caca pada saat koma, jadi semuanya nggak nyata.

•Kenapa Caca bisa koma? Dia mengalami sebuah kecelakaan yang cukup parah, kejadiannya hampir mirip sama part 144.

•Ganendra bersaudara itu sebenarnya gaada. Cuma ya mungkin di kehidupan Caca yang sebenarnya ada beberapa orang yang punya fisik sama persis sama mereka. Contohnya Ale dan Dokter Jeffrey.

•Caca nggak punya siapa-siapa. Seperti yang diceritakan di awal, dia anak tunggal dan orang tuanya sudah meninggal dunia.

Oh iya, video yang ada di part sebelumnya merupakan gambaran hal-hal yang terjadi di mimpi Caca. Beberapa peristiwa ada di dalam cerita, dan sebagian ada yang ga aku ceritain. Terima kasih sudah membaca! <3