Kini mereka semua telah menyelesaikan makan malam mereka dan berkumpul di ruang tengah untuk menghabiskan waktu bersama.
“Oma denger Jeje dapet peringkat satu paralel lagi ya?” Tanya Oma.
“Iya, Ma. Jeje dapet peringkat satu lagi.” Jawab Mama Jeje sambil mengusap pucuk kepala anaknya. Jeje pun tersenyum bangga mendengar itu semua.
“Nilai Saka juga naik kan semester ini? Keren banget cucu-cucu oma”
“Iya, Oma.” Jawab Saka singkat.
Kini Oma pun melirik Aira dan Jeffrey.
“Aira, kamu harusnya jangan mau kalah sama Jeje. Jeje lebih muda dari kamu, masa kamu nggak bisa dapet peringkat di atas Jeje sih,” Omelnya.
“Kamu juga, Jeff. Jangan terlalu dimanjain anaknya. Jadi kaya gitu kan, males-malesan gamau belajar. Jadi ya peringkatnya gitu-gitu aja. Nggak ada peningkatan.” Sambungnya.
“Aira udah rajin belajar kok, Ma. Saya juga nggak manjain Aira. Nilai Aira juga meningkat dibandingkan semester sebelumnya.” Jawab Jeffrey sambil memeluk Aira dan mengusap punggungnya.
“Belain aja terus.”
Yang lain hanya terdiam menanggapi omelan Oma. Bukan hal yang asing bagi mereka jika Oma memperlakukan Aira seperti itu.
“Kak Aira, ikut aku yuk ke dapur sebentar.” Ajak Jeje.
Aira pun berjalan mengikuti Jeje dari belakang, meninggalkan anggota keluarga yang lainnya. Saka pun ikut menyusul tanpa disadari oleh mereka berdua.
Jeje dan Aira kini berasa di dapur. Sedangkan Saka berada tak jauh dari mereka berdua. Aira duduk sambil menunggu Jeje yang sedang membuat cokelat panas untuk dirinya sendiri.
“Dress kamu lucu.” Ucap Jeje.
“Makasih. Ini dulu punya mama aku.”
Jeje mengangguk dan melanjutkan kegiatannya membuat cokelat panas.
“Kamu gamau?” Tanya Jeje.
Aira menggeleng. “Ini coklat kesukaan aku, Ra. Oma yang beliin. Ini enak banget loh.” Ucap Jeje.
“Iya minum aja, Je.”
“Aku bawa ke depan aja deh.” Ucap Jeje.
Kemudian Aira pun berdiri dari duduknya. Namun tiba-tiba Jeje menabraknya. Entah dengan sengaja atau tidak disengaja.
“ADUH!” Teriak Jeje kencang.
Coklat panas yang semula berada di tangan Jeje kini sudah tumpah mengotori bagian bawah dress yang dikenakan Aira dan sedikit mengenai tangan Jeje.
Saka yang melihatnya pun langsung menghampiri mereka. “Apaan sih, Je. Pelan-pelan dong. Ini kena dress Aira semua.” Ucap Saka dengan nada sedikit tinggi.
“Lo gapapa, Ra? Kena badan ga? Panas ya?” Khawatir Saka.
“Panas dikit doang, Sak. Gapapa kok. Tapi ini dress mama gue jadi kotor.” Jawab Aira.
“Kak, tangan aku panas!” Teriak Jeje sambil menangis. Membuat Oma datang menghampiri mereka bertiga.
“Ada apa ini?” Tanya Oma.
“Oma..” Jeje menghampirinya sambil menangis. “Tangan Jeje panas, ketumpahan cokelat panas.”
Oma pun menatap tajam ke arah Aira. “Ini pasti ulah kamu ya! Kamu bisa nggak sih nggak usah bikin masalah?”
Aira terkejut mendapat bentakan dari Oma secara tiba-tiba. Ia hanya bisa diam dan meringis merasakan panas dari area pahanya yang terkena tumpahan cokelat panas.
“Oma! Ini bukan salah Aira, Jeje yang nabrak Aira! Bahkan Aira kena lebih banyak.” Bela Saka.
“Kamu kebanyakan main sama Aira jadi berani ngelawan Oma gini ya!”
“Kamu harusnya tahu diri, Aira. Kamu bukan siapa-siapa disini. Kamu cuma pembawa sial bagi keluarga,” Bentak Oma.
“Nggak puas kamu bikin anak saya meninggal dunia karena melahirkan anak nggak berguna kaya kamu? Sekarang kamu mau nyakitin cucu saya juga?”
“Oma, cukup!” Ucap Saka.
Aira hanya bisa menunduk. Kini bahunya mulai bergetar, ia tak mampu menahan tangisnya lagi. Bentakan dari oma benar-benar menyakiti hatinya. Ia tidak menyangka bahwa Oma akan sebenci ini dengan dirinya.
“Gausah cengeng kamu. Anak manja! Pembawa sial!”
“Ma! Cukup!” Teriak Jeffrey yang baru saja datang.
“Jangan pernah mengatakan hal itu lagi kepada anak saya. Kematian Kyra bukan salah Aira. Mama boleh menyalahkan Jeffrey. Jangan menyalahkan Aira, Ma. Bahkan Aira tidak tahu apa-apa.”
Jeffrey menghampiri Aira dan membawanya ke dalam pelukannya. Aira kini terisak di dalam pelukan Jeffrey.
“Papa.. Maafin Aira.. Semua salah Aira.. Mama meninggal karena Aira.. Aira pembawa sial, Pa..” Aira semakin terisak di dalam pelukan Jeffrey.
“Enggak, Aira nggak boleh ngomong gitu. Ini bukan salah Aira. Papa sayang sama Aira,”
“Papa disini, jangan takut.” Bisiknya sambil mengusap rambut putri semata wayangnya.
Keadaan rumah mulai tidak terkendali. Jeje masih menangis dengan alasan tangannya yang terkena tumpahan cokelat dan oma masih dengan emosinya. Sedangkan yang lain tidak berani untuk membuka suara.
Jeffrey pun menuntun Aira untuk berdiri. “Kami pamit. Mungkin kami tidak akan kembali kesini lagi. Sudah cukup saya melihat anak saya diperlakukan secara tidak baik oleh keluarganya sendiri. Saya permisi.”
Mereka pun pergi meninggalkan rumah itu. Hingga kini, Jeffrey masih menggenggam tangan putrinya. Dan sesekali mengusapnya untuk menenangkan.
“Sstt.. Udah ya nangisnya? Ada yang sakit? Panas ya?”
Aira menggeleng. Tangan kirinya mengusap air mata yang ada di wajahnya.
“Dress mama kotor, Pa..” Aira kembali terisak.
“It's okay, nanti kita bersihin ya. Udahan nangisnya. Papa sedih kalau lihat Aira nangis gini.” Ucap Jeffrey sambil mengusap air mata putrinya.
“Aira dengerin papa ya? Apa yang dibilang sama Oma tadi nggak bener. Semua bukan salah Aira,”
“Jangan sedih lagi ya? Papa sayang banget sama Aira”