Coming Back
Tala kini duduk di ruang makan dengan segelas susu vanilla di tangan kanannya. Di bangku sampingnya terlihat beberapa barang yang biasa ia bawa untuk bertugas. Setelah meneguk habis minumannya itu, ia segera bergegas untuk berangkat ke rumah sakit seperti biasa.
“Ma, Tala berangkat dulu ya. Ra, gue duluan”, pamitnya kepada ibu dan saudara kembarnya.
“Hati-hati ya”, jawab Mamanya sambil mengusap kepala Tala. Sedangkan Tara yang masih mengunyah roti dan sibuk dengan laptop di depannya hanya mengacungkan jempol.
Setelah beberapa menit memanaskan mobilnya, ia pun mengemudi secara perlahan. Masih di sekitar kawasan rumahnya, terlihat Jeno yang sedang duduk di depan rumah melambaikan tangan ke arahnya. Ia pun menurunkan kaca mobilnya untuk menyapa.
“Selamat pagi Bu Dokter”, sapa Jeno dengan senyuman dan eyesmile yang tercetak di wajahnya.
“Pagi Jen. Lo gimana? Udah baikan?”
“Baik dong. Bisa dilihat sendiri gue sehat bugar”, jawab Jeno sambil terkekeh.
Tala hanya tersenyum melihatnya.
“Nanti malem kesini ya. Gue mau ngomong. Gaboleh nolak pokonya. Semangat kerja Bu Dokter!”, ucap Jeno yang terkesan memaksa, kemudian ia berjalan perlahan memasuki rumahnya.
Tala hanya menghela napas pasrah. Toh, dia tidak bisa menolak. Lalu ia kembali melajukan mobilnya dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Perbincangan singkatnya dengan Jeno tadi membuat senyum mengembang di wajahnya. Sepertinya, hari ini akan menjadi baik jika diawali dengan mood yang baik.
Pekerjaan Tala hari ini telah selesai. Ia menghela napas berat dan melepaskan jas berwarna putihnya. Cukup melelahkan, dan sedikit pusing seperti biasa. Ia pun langsung bergegas pulang ke rumahnya.
Setelah sampai di rumah, seperti biasa ia mandi dan membersihkan seluruh tubuhnya. Bekerja seharian cukup membuatnya merasa lengket, padahal tak banyak juga keringat yang ia keluarkan. Ia pun merebahkan badannya ke kasur, namun tiba-tiba notifikasi handphone nya berbunyi.
Jeno
“Gue liat barusan lo udah pulang”
“Lo ga lupa kan? Gue tunggu ya”
Astaga, Tala lupa jika ia diminta Jeno untuk kerumahnya. Ia pun langsung bergegas menuju rumah Jeno yang hanya terletak beberapa meter dari rumahnya itu. Sesampainya di depan rumah Jeno, ia melihat Jeno sedang duduk di balkon lantai dua. Jeno yang melihatnya pun memberi kode Tala untuk menyusulnya ke atas sana.
“Lo ngapain di balkon? Dingin tau”, ucap Tala yang baru saja datang dan duduk di samping Jeno.
“Peluk”
Tala menautkan kedua alisnya dan menatap Jeno.
“Kata lo dingin. Ya peluk biar ga dingin”, jawab Jeno sambil terkekeh.
“Dih males”, jawab Tala singkat.
Setelah itu terjadi keheningan di antara mereka. Keduanya terdiam, sama-sama melamun memandang langit malam yang dihiasi beberapa bintang. Serta angin malam yang berhembus pelan menyentuh kulit mereka.
Kemudian Jeno mengubah posisi duduknya secara perlahan. Ia meletakkan kepalanya di atas paha Tala. Tala merasa terkejut, namun ia masih tetap diam.
“Ternyata masih sama”, ucap Jeno.
“Apanya?”, tanya Tala sambil menunduk untuk melihat wajah Jeno.
“Rasanya tiduran disini dan ngeliatin wajah lo dari sini”, jawab Jeno sambil tersenyum.
“Perasaan gue juga masih sama. Masih sayang sama lo”, lanjutnya.
Tala diam, tak berkutik sama sekali. Ia bingung harus merespon bagaimana. Walaupun sebenarnya Tala juga masih memiliki perasaan yang sama.
“Tala, balikan yuk?”
“Jen???”, jawab Tala terkejut. Kini jantungnya berdegup sangat cepat. Jeno benar-benar membuat jantungnya tidak karuan.
“Tala, gue sayang sama lo. Bisa kita mulai smuanya dari awal? Kita bangun pondasi hubungan kita bareng-bareng, samapi bangun rumah tangga nanti”
Tala menyubit lengan Jeno. “Geli bego. Apa-apaan begitu?”, jawabnya berusaha tetap tenang walaupun kedua pipinya sudah bersemu merah.
“Gimana? Mau kan?”, tanya Jeno sambil mengubah posisi yang awalnya berbaring menjadi duduk di sebelah Tala. Ia pun meraih tangan Tala dan menatap matanya sembari menunggu jawaban.
Tala yang sedari tadi menahan senyumnya pun memberikan jawaban dengan anggukan. “Iya, gue mau”, jawabnya yang dilanjutkan dengan memalingkan wajah untuk menyembunyikan pipi tomatnya.
No matter how far they go and how many people they met, they will keep coming back to each other. That's a destiny.