jejesmiley

Dia kembali

Setelah sampai di kawasan Rumah Sakit, Tala bergegas menuju kamar tempat dimana Jeno dirawat. Dirinya panik, takut akan ada kabar buruk yang akan menyambutnya. Tapi semoga saja kabar baik yang menyambutnya.

Saat sampai di depan ruangan Jeno, terlihat Mama Jeno dan Dokter Juan sedang berbincang disana. Kemudian Mama Jeno pun menyadari kehadirannya.

“Tala.. Jeno kembali.. Dia kembali bersama kita lagi..”, ucapnya sambil berkaca-kaca.

“Jeno bangun, La. Dia nyariin kamu”

Lega. Itu yang dirasakan Tala sekarang. Batinnya tak berhenti mengucap syukur kepada Tuhan yang telah menyelamatkan nyawa Jeno. Kemudian ia tangannya meraih gagang pintu dan membukanya perlahan. Disana terlihat Rendra yang berdiri di samping Jeno yang kemudian memberi Tala kode untuk masuk.

“Gue tinggal dulu ya”, ucap Rendra sambil berjalan meninggalkan mereka.

Tala melangkah pelan menuju ranjang Jeno. Jeno yang terbaring disana menatap lekat gadis didepannya. Tatapan yang mengisyaratkan perasaan rindu yang amat dalam.

“Tala..”, ucapnya pelan.

Yang dipanggil tidak memberikan respon apapun. Ia hanya menatap kosong lurus kedepan.

“Tala maafin gue.. Gue udah bohong sama lo..”

“Mau denger penjelasan dari gue?”

“Gausah, gue udah tau semuanya”, jawabnya singkat.

Jeno meraih tangan Tala, dan membuat Tala menatapnya. “Maafin gue ya?”

Tatapan Jeno masih sama seperti beberapa tahun yang lalu. Tatapan memohon yang terlihat sangat menggemaskan agar Tala mau memaafkannya.

“Iya”, jawabnya singkat padahal jantungnya berdegup sangat cepat.

Sudah lama sekali sejak pertemuan terakhir mereka. Sudah lama pula sejak terakhir saling bertukar kabar. Bahkan perpisahan mereka pun sedikit kurang mengenakkan. Keduanya, sama-sama menyimpan rasa rindu yang amat dalam.

Jeno membangkitkan tubuhnya. Merubah posisinya yang semula berbaring menjadi duduk.

“Lo mau ngapain? Tiduran aja deh, lo masih sakit”

Jeno tak menghiraukan ucapan tala. Setelah posisi duduknya dirasa sudah nyaman, ia melapangkan kedua tangannya dan menarik tubuh Tala kedalam pelukannya.

“Gue kangen banget sama lo. Maafin gue”, ucapnya lembut sambil mengusap rambut Tala.

Tala terkejut. Tubuhnya menegang. Ia membalas pelukan lelaki di depannya itu. Kalau boleh jujur, ia juga merasakan hal yang sama.

'Gue juga kangen sama lo, Jen', batinnya.

“Maaf mulu, lebaran masih lama kali ah”

Jeno terkekeh mendengar jawaban Tala. Kemudian Tala melepaskan pelukan Jeno secara perlahan.

“Gue tinggal ya? Gue ada kerjaan. Jangan banyak tingkah biar cepet pulih”, ucapnya sambil memakai jas dokternya.

“Siap Bu Dokter. Sering-sering kesini ya”, tawa Jeno.

Tala hanya tersenyum tipis, lalu ia beranjak dari tempatnya.

Penyesalan

Operasi telah berlangsung. Suasana tegang menyelimuti ruang tunggu operasi. Mereka semua tak henti merapalkan doa untuk seseorang yang berada di dalam sana.

Mama Jeno mendudukkan dirinya disamping Tala. Kemudian beliau meraih bahu gadis yang sedang menangis di sampingnya dan membawanya ke dalam pelukan.

“Tala, tante menyesal. Tante merasa gagal menjadi seorang ibu. Tante gagal melindungi Jeno. Bahkan kondisi Jeno yang seperti ini saja tante tidak tau”, tangis yang ia tahan sedari tadi pun pecah.

“Tante enggak gagal jadi seorang ibu. Tante berhasil membuat Jeno menjadi manusia yang sangat tangguh sejak kecil”, jawab Tala.

“Tante tau? Jeno sayang banget sama tante. Waktu kecil, setiap dia ulang tahun, Tala selalu tanya ke Jeno apa permohonan dia. Dan tante tau apa jawabannya?”

“Jeno bilang, Jeno cuma mau mama papa bahagia”, lanjut Tala sambil menyeka air matanya.

“Jeno anak yang kuat, Tan. Selama ini dia menyimpan seluruh bebannya sendirian”

“Tapi sekarang Tala takut, Tan. Tala takut Jeno merasa lelah dan menyerah”

Tangis keduanya semakin pecah. Terpikirkan hal hal buruk yang bisa terjadi kapan saja.

“Tante bener-bener merasa nggak berguna. Tante ga pernah ada saat Jeno berada di masa-masa sulitnya. Tante menyesal, La”

Mendengar emosi keduanya mulai tidak terkontrol, Papa Jeno dan Rendra pun menghampiri mereka berdua.

“La, udah ya. Kita berdoa semoga Jeno bisa ngelewatin semuanya dengan lancar dan bisa kumpul lagi sama kita”, ucapnya sambil mengusap punggung Tala.

Papa Jeno pun juga mencoba menenangkan istri disampingnya itu.

Setelah cukup lama operasi berlangsung, pintu ruang operasi pun terbuka. Terlihat Dokter Juan keluar dari ruangan tersebut, masih lengkap dengan pakaian khas dokter saat mengoperasi pasien dan berjalan menuju orangtua Jeno.

“Operasinya berhasil”, ucapnya.

Semua orang yang mendengarnya menghela napas lega.

“Tapi, kondisi Jeno sangat lemah. Kita belum tau kapan dia akan sadar”, lanjutnya.


“Tala mau masuk ke dalam?”, tanya Mama Jeno.

Tala menggeleng pelan. Kemudian ia melakukan gerakan tangan sebagai isyarat mempersilahkan Mama Jeno untuk masuk ke dalam ruangan yang berada di depan mereka.

Mama Jeno mendudukkan dirinya di sebuah bangku yang ada di samping ranjang Jeno. Wanita paruh baya itu meraih tangan di depannya dan membawanya ke dalam genggaman.

“Jeno.. Ayo bangun.. Ini Mama..”

Ia menatap wajah putra semata wayangnya yang sekarang terbaring lemah didepannya dengan sangat lekat. Tangan kanannya pun tergerak untuk mengusap pucuk kepala putranya dengan lembut.

“Anak Mama.. Udah dewasa ya sekarang..”

“Jeno.. Mama sayang sama kamu.. Sayang sekali..”, lagi-lagi air matanya menetes.

“Maafin Mama.. Mama belum bisa menjadi ibu yang baik buat kamu. Mama belum bisa menemani kamu bahkan di masa-masa sulit kamu. Tapi sekarang Mama ada disini, Jen. Biarin mama menebus semua kesalahan Mama selama ini ya?”

Nafasnya terasa sangat berat. Ia menahan agar tangisnya tidak pecah. Bagaimana bisa seorang ibu melihat putra satu-satunya terbaring tidak berdaya di depannya. Air matanya menetes membasahi pipinya. Kemudian ia kembali menenangkan dirinya sendiri dan menarik nafas panjang.

“Mama tau kamu anak tangguh, Jen. Tolong bertahan ya? Mama pengen bisa peluk kamu dalam keadaan sehat”

“Bangun ya, Jen? Mama, Papa, Jevan, Echan, Rendra, dan Tala nungguin kamu bangun. Kami sayang sama kamu”

Ia kembali mengusap pucuk kepala putranya. Kemudian ia bangkit dari duduknya dan bersiap untuk pergi dari sana. Namun tiba-tiba sebuah alat disana berbunyi sangat nyaring. Ia pun panik dan langsung bergegas keluar dari sana.

“DOKTER TOLONG”

Koridor Rawat Inap

Sudah lebih dari 1 tahun Tala menjalani masa koas nya. Kini ia masih menyandang status sebagai dokter muda atau yang biasa disebut koas itu. Jangan ditanya lagi bagaimana keadaannya bagaimana. Sudah jelas dia pusing. Apalagi ketika bertemu dokter senior yang galak dan menyebalkan. Jangan lupakan setumpuk pekerjaan yang harus ia lakukan, termasuk catatan pasien berlembar-lembar yang harus ia kerjakan.

Kini Tala sedang berjalan melewati koridor kamar rawat inap. Suasana siang ini cukup ramai. Terlihat banyak orang yang mungkin menjenguk keluarga atau kerabatnya yang sedang dirawat disana.

Tala menyipitkan kedua matanya. Inderanya menangkap sosok yang familiar untuknya sedang berdiri di ujung koridor. Ternyata, orang itu adalah Jevan. Lalu Tala pun bergegas untuk menghampirinya.

“Jev?”, panggil Tala.

“Lo ngapain disini?”

Yang merasa terpanggil pun menoleh dan terkejut. “E-eh Tala. Biasa nganter nyokap kontrol”

Tala menautkan kedua alisnya. Dirinya merasa ada yang aneh dengan sahabatnya itu.

“Nyokap lo kontrol? Setau gue dokter yang biasa nanganin nyokap lo gaada praktek hari ini deh. Apa gue salah?”

“Oh iya, lagian ini koridor rawat inap. Kalo kontrol kan bukan disini. Dan gue juga yakin lo udah hapal ruangan disini, jadi ga mungkin lo nyasar”

Jevan gelagapan. Dirinya panik. “Jevan goblok”, batinnya.

Kemudian salah satu pintu ruangan pasien yang letaknya tak jauh dari sana terbuka. Menampakkan seorang Echan keluar dari sana.

“Jev, lo- eh Tala”, ucap Echan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Siapa di dalem?”, tanya Tala.

Keduanya diam. Saling melemparkan tatapan satu sama lain. Tidak ada yang berani membuka suara diantara keduanya.

“Yang ada di dalem siapa, Jev, Chan?”

“Kasih tau gue atau gue masuk kesana sekarang?”

Keduanya masih diam. Mereka sama-sama takut untuk membuka suara.

“Oke gue masuk”, final Tala.

Tala melangkah menuju pintu ruangan itu. Tangannya meraih gagang pintu dan membukanya perlahan. Tampak seseorang terbaring lemah di atas ranjang dengan pakaian khas pasien serta beberapa alat yang terpasang di tubuhnya.

Tubuh Tala mulai bergetar. Matanya berkaca-kaca. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang ia lihat dengan matanya.

“Nggak. Nggak mungkin..”, ucap Tala setelah menutup kembali pintu ruangan itu.

“Itu bukan Jeno kan?”, ucapnya lirih.

“JEV, CHAN BILANG KE GUE ITU BUKAN JENO KAN??”

“Itu Jeno, La. Jeno yang kita kenal”, jawab Jevan.

“Nggak mungkin Jev.. Enggak, itu bukan Jeno..”

Tangisnya pecah, bahunya bergetar hebat. Melihat seseorang yang masih sangat ia sayangi terbaring lemah disana dengan berbagai alat menempel di tubuhnya. Sakit rasanya, sakit sekali. Seperti ditimpa batu seberat ribuan ton. Tala benar-benar hancur.

Jevan dan Echan mengusap bahu Tala. Mencoba untuk menenangkannya. Tak lama kemudian, Dokter Juan datang menghampiri mereka.

“Kak, Jeno kenapa?”, tanya Tala sambil medekat ke arah Dokter Juan.

“Nanti kakak jelasin ke kamu. Kakak cek kondisi Jeno dulu ya”

“Jangan nangis, Jeno gamau lihat kamu sedih kaya gini”, ucap Dokter Juan sebelum masuk ke ruangan Jeno.

Damai

Sedah seminggu mereka didiamkan oleh Tala. Sejak kejadian di hari terakhir ujian semester itu, mereka sangat jarang berkomunikasi satu sama lain. Bahkan sekedar menyapa saat bertemu pun tidak.

Kini mereka berada di tuang tengah rumah Tala. Suasana rumah itu sepi dikarenakan Mama Tala kembali pergi ke Jogja untuk mengurus sesuatu.

“Gue duduk ya”, ucap Jeno meminta izin kepada Tala.

Tala mengangguk. Kemudian ia pergi untuk mengambil kotak P3K. Setelah itu ia kembali lagi ke ruang tengah.

“Yang lain mana?”, tanya Tala.

Jeno mengangkat kedua bahunya.

Melihat jawaban Jeno, Tala menghela napas kasar. Ia mulai mengambil kapas dan obat merah dari dalam kotak P3K dan mulai mengobati luka Jeno.

Ia mulai dari membersihkan bagian siku, dilanjut dengan bagian-bagian lain yang terluka.

“Aduh, pelan-pelan La. Sakit”, ucap Jeno sambil meringis kesakitan.

“Udah tau sakit, kenapa masih ngeyel?”

“Kan gue udah bilang. Lo boleh balapan, tapi jaga diri jangan sampe kaya gini. Lo kenapa sih bisa sampe jatuh kaya gini?”

“Untung lo ga kenapa-kenapa. Lo ga mikirin kemungkinan terburuk kalo lo kecelakaan motor”, omel Tala.

Jeno tidak merespon sama sekali. Ia malah memperhatikan Tala yang sedari tadi mengomel sambil mengobati lukanya. Merasa diperhatikan, Tala pun menoleh ke arah Jeno.

“Apa liat-liat?”, ucap Tala sinis.

“Lanjutin. Jangan berhenti”, ucap jeno.

Tala menautkan kedua alisnya. Tidak paham dengan ucapan Jeno.

“Lanjutin ngomelnya. Mendingan lo marah-marah ke gue kaya gini daripada lo diemin gue kaya kemarin”, jelas Jeno.

Tala tidak merespon ucapan Jeno dan lanjut mengobati lukanya.

“La, maafin gue ya?”

“Kemarin gue terpaksa nganterin Tessa. Gue gaada apa-apa sama dia”

“Maaf juga gue ga ngabarin lo dulu. Gue tau gue salah”, ucap Jeno.

“Hmm”, Tala hanya merespon ucapan Jeno dengan deheman singkat.

“Buat masalah Saga, gue ga bermaksud gimana-gimana. Gue cuma takut kalo Saga berbuat sesuatu sama lo”

“Gue cuma gamau lo kenapa-kenapa La”, sambung Jeno.

Tala pun mengubah posisinya menjadi di samping Jeno dan menghadap ke arah Jeno. Ia menatap kedua mata laki-laki itu secara lekat.

“La, maafin ya?”, ucap Jeno sambil menatap mata Tala.

“Iya”

“Jadi damai nih?”, tanya Jeno.

“Lo pikir kita habis perang?”, ucap Tala sambil berusaha berdiri. Namun di tahan oleh Jeno.

“Duduk aja”, ucap Jeno.

Kemudian Jeno meletakkan kepalanya di atas paha Tala. Tala mencoba menolak dan berusaha berdiri, namun tetap ditahan oleh Jeno. Lalu Jeno meletakkan tangan Tala di atas kepalanya.

“Kaya gini dulu, sebentar aja. Boleh ya?”, pinta Jeno sambil menatap wajah Tala dari bawah.

Tala hanya mengangguk. Kemudian tangannya bergerak untuk mengusap kepala Jeno dengan pelan. Kemudian Jeno mulai memejamkan kedua matanya.

“Jangan luka lagi ya Jen”

Sidang

Waktu kini menunjukkan pukul 7 malam. Seluruh anggota keluarga Ganendra terlihat sedang berkumpul di ruang tengah. Mulai dari yang tertua hingga yang paling muda ada di sana.

Suasana di sana pun sedikit tegang. Terlebih bagi Caca. Seolah olah mereka seperti akan mengadakan sidang.

“Caca. Kamu gapapa kan dek?”, ucap Taeil si sulung.

Caca yang merasa dipanggil pun menoleh. “Eh, Caca gapapa kok mas”, jawabnya.

“Ini gaada yang mau cerita gimana kejadian sebenernya? Gue bingung sumpah”, ucap Jaehyun meminta penjelasan.

“Jadi gini mas..”, ucap Sungchan.

Ke-dua puluh dua orang lainnya pun mulai memusatkan perhatiannya kepada Sungchan yang tengah berbicara.

“Tadi gue denger ada anak kelasnya Mas Jeno nyamperin Caca. Trus maki-maki Caca gitu, katanya Caca ga pantes deket-deket sama Jeno. Centil katanya”

“Terus tadi mereka juga hampir main tangan sama Caca. Tapi gue langsung samperin dan aduin ke guru BK”, sambungnya.

“Lah jadi yang berulah fans-nya Jeno?”, ucap Haechan terkekeh.

“Keren nih Jeno, banyak fans-nya. Mirip gue pas SMA dulu”, timpal Lucas.

“Ya gimana ya. Gue ganteng soalnya”, respon Jeno percaya diri.

“Anak SMA jaman sekarang aneh-aneh aja kelakuannya”, ucap Kun heran.

“Tapi lo gapapa kan dek?”, tanya Johnny kepada Caca.

Caca meresponnya dengan senyuman tipis yang dilanjut dengan anggukan di kepalanya.

“Mulai sekarang gausah lagi deh nyembunyiin kalo sebenernya kalian sodaraan”, ucap Taeyong.

Renjun, Jeno, Haechan, Jaemin, Yangyang, Shotaro, Sungchan, Chenle, Jisung dan Caca pun terkejut dan saling memandangi satu sama lain.

“Serius Mas?”, tanya Yangyang.

“Ya serius lah. Daripada kejadian kaya gini keulang lagi kan”, jawab Yuta.

“Terus ini ngakunya kalo sodaraan gimana? Pake toa sekolah gitu?”, tanya Jisung polos.

Chenle yang duduk di samping Jisung pun menoyor kepalanya. “Ya nggak gitu dodol. Sekarang kan udah ada sosmed. Lo post foto Caca di twitter aja pasti udah diliat satu sekolah”, ucapnya.

“Santai anjir Le, gue geplak nih pala lo”, jawab Jisung kesal sambil mengangkat telapak tangannya.

“Berantem mulu bocil”, ucap Mark sambil melempar bantal sofa ke arah mereka. Mereka pun hanya menanggapi dengan enkspresi kesal.

“Udah udah. Pokoknya mulai besok kalian berangkat bareng. Caca tinggal pilih mau bonceng siapa”, ucap Taeil.

Anak-anak SMA yang berada disana pun hanya bisa mengangguk pasrah dan menuruti perkataan kakak tertuanya itu. Kemudian tidak ada percakapan serius lagi di antara mereka semua.

Tiba-tiba..

“IH BAU APA NIH”, teriak Haechan sambil menutup hidungnya.

“Anjir, siapa kentut bau banget”, timpal Jungwoo.

“Mas Winwin, lo ya?”, tuduh Haechan.

“Dih engga. Apaan sih lo nuduh sembarangan”, jawab Winwin.

“Sumpah bau banget gakuat”, ucap Shotaro.

“Pada makan apa sih anjir. Kenapa baunya kaya gini”, timpal Yangyang sambil mengibaskan tangannya di depan muka.

“Jangan-jangan Mas Doy tuh. Diem-diem aja daritadi siapa tau nahan boker”, ucap Hendery.

Doyoung pun melotot ke arah Hendery. “Apa-apaan kok jadi gue yang kena”.

“Chan gausah drama deh ah. Lo kan yang kentut”, ucap Ten sambil menatap sinis ke arah Haechan.

Haechan mengernyit bingung. Ia hanya terdiam, tidak merespon apapun. Namun dalam hitungan 1.. 2.. 3..

Haechan kabur. Berlari menuju kamarnya sambil tertawa kencang.

Him

Tala masih duduk di halte dekat SMA Neo. Dirinya makin gelisah karena dua pria yang memperhatikannya sejak beberapa menit yang lalu mulai mendekati dirinya.

Ia masih mencoba menghubungi Jeno, namun hasilnya tetap nihil. Jeno tidak mengangkat panggilan darinya. Bahkan membaca pesan dari Tala saja tidak.

Kini kedua pria tersebut sudah berada di hadapan Tala. Ia dibuat merinding dengan kehadiran mereka. Apalagi dengan penampilan mereka yang tampak seperti preman yang ganas.

“Anak SMA Neo ya neng? Kok sendirian aja?”, tanya salah satu dari mereka.

“Ini udah mau gelap loh. Mending ikut main sama kita”, ucap yang lain dengan ekspresi genit yang membuat Tala semakin merinding.

Tala hanya terdiam. Tidak menghiraukan perkataan mereka sama sekali. Ia pun mengubah posisinya yang tadinya duduk di halte menjadi berdiri mendekati tepi jalan.

Kedua pria tersebut masih mengganggunya. Tala ingin melawan, namun takut jika mereka malah berlaku kasar.

“Ayolah neng sini ikut sama kita. Daripada sendirian disini, serem tau”, ucap salah satu dari mereka sambil mencoba meraih tangan Tala.

Tiba-tiba sebuah motor sport berhenti di depan mereka. Terlihat seorang pria memakai jaket kulit hitam dan helm hitam duduk di atasnya.

“Maaf bang, ini cewe saya. Jangan digangguin ya”, ucap pria tersebut.

“Aku kelamaan ya? Maafin aku ya”, ucapnya kepada Tala.

Tala mengernyit bingung. Pasalnya, ia tidak mengenal pria misterius di atas motor itu.

“Ayo naik”

Tala pun menurut dan menaiki bagian belakang motor itu. Kemudian motor itu melaju meninggalkan tempat tadi.


Setelah beberapa menit berjalan, motor yang tadinya melaju kencang itu mulai menepi. Mereka berhenti di tepi jalan yang tidak terlalu ramai.

“Sorry ya, gue tadi ngaku-ngaku jadi pacar lo”, ucap pria itu tanpa melepas helm-nya.

“Eh, iya gapapa. Gue malah makasih sama lo udah nyelametin gue dari mereka”, jawab Tala.

“Btw lo mau kemana? Gue anterin deh”

“Sebenernya gue mau ke toko buku. Tapi gue mau pulang aja deh kayanya”, jawab Tala.

“Eh gue juga mau ke toko buku. Sekalian aja gimana?”

“Yaudah deh”

Kemudian pria itu kembali melajukan motornya menuju tempat yang maksud.


Setelah sampai, mereka pun memasuki toko buku tersebut dan mulai mencari barang-barang yang mereka butuhkan.

“Oh iya kita belum kenalan. Nama gue Tala, lo siapa?”, tanya Tala.

“Gue Saga, anak SMA Nusantara. Kebetulan tadi lewat SMA Neo terus gue ngeliat lo”, jawabnya.

Tala merasa tidak asing dengan nama Saga dari SMA Nusantara. Namanya mirip dengan pria yang disebut pernah adu jotos dengan Jeno sahabatnya.

Melihat ekspresi Tala, Saga pun menebak. “Lo pasti pernah denger nama gue. Iya gue yang pernah berantem sama Jeno dulu”

Tala hanya ber-oh ria sambil sedikit mengangguk-angguk.

“Btw gue minta maaf ya. Dulu gue mau jadiin lo bahan taruhan sama Jeno. Gue nyesel”

Melihat Tala yang tidak merespon sama sekali, Saga pun melanjutkan kalimatnya.

“Serius gue bukan orang jahat kok La”, ucap Saga meyakinkan.

“Iya gapapa. Lagian lo tadi juga udah nolongin gue kan. Yaudah”, jawab Tala santai.

Kemudian mereka melanjutkan aktivitas mereka. Mengelilingi setiap rak di toko buku tersebut. Namun tiba-tiba terlihat sosok yang familiar berdiri 10 meter di depan mereka.

“La, itu Jeno kan?”, tanya Saga sambil menunjuk arah depannya.

Pandangan Tala pun menuju arah telunjuk Saga. Benar, itu Jeno. Bersama seorang gadis di sampingnya, yaitu Tessa.

“Saga, kita pulang sekarang aja ya? Anterin gue”, minta Tala.

Saga pun menuruti permintaan Tala. Kemudian mereka pergi meninggalkan tempat tersebut.

Caca masih berada di ruang tengah. Ia masih membolak-balik album foto di hadapannya dan mengamati setiap foto-foto yang ada.

Tiba-tiba seseorang terlihat memasuki rumah. Orang itu adalah Hendery.

“Dek, mas pulang”, ucap Dery.

Caca hanya berdehem, tidak mempedulikan kehadiran Dery. Dery pun mendekati Caca dan berdiri di belakangnya.

“Kangen mama papa ya? Doain mereka terus ya biar bahagia di sana”, ucap Dery sambil mengusap kepala Caca singkat.

Kemudian Hendery berjalan menuju dapur, meninggalkan Caca.

Setelah acara ribut antara Echan dengan Tara karena susu coklat, kini mereka berlima berkumpul di ruang tengah. Mereka sibuk dengan benda pipih di genggaman mereka masing-masing, entah apa yang mereka lakukan.

“Ekhem”, tiba-tiba Jeno berdehem memecah keheningan.

“Ini gini doang nih? Main hp sendiri-sendiri? Ngobrol kek”

Keempat lainnya pun langsung membenarkan posisi duduk mereka dan meletakkan handpone mereka.

“Eh Chan, lo gimana sama Lia? Lancar?”, tanya Tala.

“Ya gitu deh. Doain aja ya siapa tau jodoh”

“Jodah jodoh, belajar dulu yang bener”, timpal Rendra sambil menoyor kepala Echan.

“Yee sirik ya lo”

Jeno, Jevan, dan Tala hanya tertawa melihat keributan mereka berdua.

“Lo gimana Jen? Orangtua lo apa kabar?”, tanya Tala.

Jeno mengangkat kedua bahunya.

“Jujur gue berasa gapunya rumah. Maksudnya keluarga buat gue pulang gitu.”

Semuanya terdiam menatap Jeno dan menyimak ceritanya.

“Mereka yang dipikirin kerjaan mulu. Mungkin mereka lupa kalo punya anak”, Jeno tersenyum getir.

Jevan yang duduk disamping Jeno pun mengusap punggung Jeno.

“Gausah ngeliatin gue gitu ih. Gue gapapa kali, lagia ada kalian juga”, ucap Jeno sambil tersenyum hingga memperlihatkan eyesmile nya.

“Lo gimana Ren? Bokap di rumah?”, tanya Jeno kepada Rendra.

“Kalo bokap di rumah, gue ga mungkin di sini kali. Pasti gue di kamar disuruh belajar”, jawab Rendra santai.

“Bokap lo masih ngungkit masalah jurusan lo?”, tanya Tala.

“Iya. Sejak awal dia pengen gue masuk IPS biar masuk hukum. Tapi lo tau sendiri minat bakat gue lebih ke MIPA”

“Jadi gue mati-matian belajar biar dia ngerti kalo pilihan gue ga salah”

“Kita tau lo pasti bisa Ren”, ucap Echan meyakinkan.

“Berusaha semampu lo, jangan terlalu dipaksain”, timpal Jevan.

Rendra hanya tersenyum dan menjawab perkataan teman-temannya dengan anggukan.

“Nyokap lo gimana Jev? Udah ada perkembangan”, tanya Tala.

“Lumayan sih, tapi tetep aja kondisinya belum stabil. Doain aja ya”, jawab Jevan.

“Kapan-kapan ajakin gue dong ke rumah sakit”, ucap Tala.

Jevan mengacungkan jempolnya untuk merespon Tala.

“Bunda sehat kan Chan? Baik baik aja kan?”, tanya Tala.

“Ya kaya yang lo liat kemarin. Bunda baik, walaupun kadang gue denger Bunda nangis malem-malem”

“Mungkin Bunda kangen Ayah lo. Lo jangan bandel bandel makanya Chan, biar Bunda ga puyeng”, omel Tala.

Echan tertawa kecil. “Orang tua lo sendiri gimana La? Mama lo ke Jogja lagi ngapain?”

Tala mengangkat kedua bahunya. “Gatau deh, katanya sih ada urusan”

“Tapi sebelum Mama pergi, gue denger dia lagi ribut sama Papa di telepon”

“Ada masalah La?”, tanya Jeno.

“Misal ada apa-apa ceritain ke kita ya”, sambungnya.

“Iya. Udah ah kenapa malah jadi deep talk ngobrol serius gini sih”, ucap Tala.

“Siapa coba yang mulai”, jawab Rendra.

“Au dah. Gue laper nih La. Ada mie instan ga?”, ucap Echan sambil mengubah posisinya menjadi berdiri.

Tala pun ikut berdiri. “Ada kok di dapur. Ayo bikin, pada mau semua kan?”

Jevan, Jeno, dan Rendra pun mengangguk.

Tiba-tiba Echan kembali mendaratkan pantatnya ke sofa. “Lo aja deh yang bikinin. Jev ayo mabar”

“Anjir ngeselin lo, tau gini gue bilang gaada”, jawab Tala kesal sambil melemparkan bantal ke arah Echan lalu berjalan menuju dapur.

“Yaudah sini gue temenin”, jawab Jeno sambil menyusul Tala.

Melihat pergerakan Jeno, Echan pun langsung melirik kedua teman di dekatnya sambil tersenyum kecil.

“Heran gue sama Jeno, sampe kapan mau diem-diem kaya gini”.

Ruman Echan

Jeno dan Tala sudah berada di depan rumah Echan. Mereka pun memasuki halaman rumah tersebut. Rumah itu masih terlihat sama seperti yang terakhir kali Tala lihat. Halaman yang lumayan luas dengan berbagai tanaman yang menghiasi, serta bangunan rumah minimalis yang memberi kesan nyaman.

“Permisi, assalamualaikum”, ucap Jeno dan Tala sambil memasuki rumah Echan.

Terlihat Echan dengan sosok wanita yang akrab mereka panggil dengan sebutan Bunda itu berada di dapur.

“BUNDAAAA”, teriak Tala sambil berlari ke arah dapur.

Melihat Tala yang tiba-tiba ada di dekatnya, Bunda pun langsung memeluk Tala erat. Seakan-akan bertemu putri kandungnya.

“Eh anak cantik, udah gede ya sekarang. Tambah cantik aja nih”, ucap Bunda sambil mengusap kepala Tala.

“Kok baru kesini sekarang sih, kan pindah kesini udah lumayan lama”

“Echan ga ngajakin kesini sih Bun”, jawab Tala sambil melirik Echan.

“Kalo mau kesini mah langsung aja atuh, gausah nungguin Echan”, jawab Bunda dengan sedikit logat sundanya.

“Ehem-ehem, anak ganteng di anggurin nih Bun?”, sahut Jeno.

“Bunda mah bosen sampe bosen liat kamu Jen”, canda Bunda.

Jeno pun memasang eskpresi cemberut, seolah-olah ngambek karena perkataan Bunda. Echan dan Tala hanya menggeleng heran.

Tiba-tiba Jevan dan Rendra pun datang.

“Assalamualaikum Bunda cantik”, sapa Jevan.

“Waduh bau mie ayam nya mantep banget nih Bun”, ucap Rendra sambil mendengus.

“Yaudah sana kalian makan. Gausah rebutan, Bunda masak banyak”

Mereka pun menuju meja makan dan mengambil makanan untuk diri mereka masing-masing. Menikmati mie ayam buatan Bunda Echan yang enak itu sambil sesekali bercanda.

“Bunda keluar dulu ya, kalian jangan berantem”

“SIAP BUNDAA”


Setelah kenyang menyantap mie ayam dan membereskan meja makan, mereka pun pergi ke ruang tengah. Di salah satu dindingnya terlihat sebuah frame berisikan 4 orang anak kecil yang tersenyum sambil berpelukan tergantung manis.

“Time flies so fast”, gumam Tala sambil memandangi foto tersebut.

Keempat orang lainnya yang berada di sana pun menoleh, lalu mengikuti arah kemana pandangan Tala tertuju.

“Iya cepet banget ya ternyata. Perasaan kemarin Tala masih suka ngambek gara-gara diusilin Echan, eh sekarang..”, ucap Rendra terputus.

”..sekarang juga sama aja ngambekan, hahaha”

Jeno, Jevan, dan Echan pun tertawa terbahak-bahak. Sedangkan Tala hanya mendengus kesal.

“Tuh beneran ngambek”, ucap Jeno.

“Kalian juga dulu masih naik sepeda, sekarang udah gegayaan ikut geng motor. Gegayaan balapan sama berantem. Keren lo begitu?”, sinis Tala.

Keempatnya terdiam, terutama Jeno. Mengingat beberapa hari yang lalu ia babak belur karena berkelahi dengan seseorang.

“Kicep kan lo pada”

“Iya deh maaf, ga berantem lagi”, ucap Jeno.

“Tapi kalo kurang ajar, yakali ga dihajar”, sambungnya sambil terkekeh pelan.

Tala menghela napas. Memang susah menasihati teman-temanna, bebal.

“Iya La. Tapi kalo balapan yakali mau pelan-pelan. Ga bakalan menang dong?”, timpal Echan.

“Tau ah terserah. yang penting kalian ga macem-macem”

“Siap bos!!”, jawab keempatnya bersamaan.

Tiba-tiba sebuah notif pesan masuk ke handphone Tala.

“Siapa?”

Tala mengangkat kedua bahunya. “Gatau, nomer doang”

“Sini, biar kita aja”, ucap Rendra sambil merebut handphone di genggaman Tala.

Cafe

Setelah keributan di grup chat mereka, akhirnya Tala memutuskan untuk memakai pakaian yang dipilih oleh sahabat-sahabatnya. Takut mereka mengomel apabila Tala keras kepala memakai pakaian yang sebelumnya.

Kebetuan sore ini cuacanya mendung. Angin yang berhembus pun terasa dingin. Tidak salah jika Tala menggunakan pakaian itu.


Seperti yang telah direncanakan kemarin, Tala akan bertemu Marka di sebuah cafe yang telah mereka tentukan. Kini Tala sudah duduk di sebuah bangku di dalam cafe tersebut.

Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya yang dinanti pun tiba. Marka datang menghampiri Tala. Ia pun langsung duduk di hadapan Tala.

“Eh sorry ya lama”, ucap Marka yang baru saja mendudukkan dirinya di depan Tala.

“Iya gapapa kok Kak”

Marka pun membuka tasnya dan mengambil powerbank di dalamnya. Setelah itu ia memberikannya kepada Tala.

“Thanks ya La”

Tala hanya mengangguk. Kemudian ia memperhatikan Marka yang memegang sebuah kamera di tangannya.

“Suka fotografi ya Kak?”, tanya Tala penasaran.

“Iya suka”

“Kenapa ga ikut ekskul fotografi di sekolah Kak?”

“Engga ah. Gue suka fotografi cuma iseng doang kok. Kalo liat hal-hal yang cantik gue foto buat disimpen”

Tala mengangguk-angguk.

“Pasti Kak Marka sering ngefotoin pacar Kakak ya?”

“Eh? Hahaha”, Marka terkekeh.

“Gue gaada pacar sih La. Tapi akhir-akhir ini ada sih yang bikin gue tertarik”, jawab Marka sambil tersenyum kepada Tala.

Jantung Tala berdegup kencang. Tangannya mulai dingin karena gugup.

“Wah siapa tuh?”, tanya Tala.

Marka kemudian menunjukkan sebuah hasil fotonya kepada Tala. Dalam foto tersebut terlihat seorang gadis berambut panjang. Ia terlihat seperti Tala. Jantung Tala pun semakin tidak karuan.

'Eh kok mirip gue? Tapi kok gue ga yakin', batin Tala

“Kak..”

Marka tersenyum dan mengangguk.

“Iya, gue suka sama dia. Kembaran lo”

Jantung Tala rasanya seperti berhenti berdetak. Ia sangat terkejut. Ternyata seorang lelaki yang ia kagumi menyukai kembarannya sendiri.

“Karena gue duluan kenal sama lo, gue minta izin dulu deh sama lo. Gue mau deketin Tara boleh La?”

Tala tersenyum, mencoba menutupi rasa sakit hatinya.

“Iya boleh. Tapi janji bikin dia bahagia ya?”

“Siap”


Setelah pertemuannya dengan Marka tadi, kini Tala sudah sampai di rumahnya. Ia merebahkan tubuhnya di kasur dan menyetel musik keras-keras.

Ia menangis. Entah kenapa rasanya sakit sekali. Baru beberapa waktu ia mengenal Marka, kemudian ia merasakan jatuh cinta. Dan kini ia sudah harus merasakan patah hatinya?

Mungkin memang Marka bukan untuk dirinya.